Minggu, hari libur yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang suka beristirahat dan malas beraktivitas. Ada yang memilih untuk beristirahat sepanjang hari, dan ada pula yang memilih untuk berlibur. Di sebuah rumah besar dengan cat berwarna hijau daun dan kaca yang ditempeli gambar burung merak yang indah, tinggal seorang pemuda bernama Gani. Gani adalah tipe orang yang malas dan suka berubah-ubah pikiran.
Pada Minggu ini, Gani memilih untuk beristirahat sepanjang hari. Dia melanjutkan tidurnya setelah sholat Subuh. Matahari telah muncul dan sinarnya mengarah langsung ke jendela kamar Gani, membangunkannya. Namun, bukannya bangun, Gani malah memilih untuk melanjutkan tidurnya dan menutup tirai jendelanya. Sinar matahari tidak bisa menjadi alasan baginya untuk bangun. Gani sudah terbiasa, setiap hari Minggu dia pasti tidur, dan sangat sulit baginya untuk melakukan aktivitas di hari Minggu.
Tiba-tiba, sosok wanita berhijab memasuki kamar Gani. Dia adalah ibu Gani, Bu Susi. Melihat Gani masih tidur, Bu Susi menghela nafas, heran mengapa Gani tidak ada perubahan sama sekali.
“Astaghfirullah Gani… ayo bangun sarapan dulu, habis itu mandi, jangan tidur terus,” ucap Bu Susi membangunkan Gani sembari menepuk pundaknya.
Gani terbangun mendengar suara ibunya yang membangunkannya. “Hmmm… .Gani ngantuk bu, marine wes bu,” ucap Gani sembari membuka matanya yang berat. Di keluarga Gani, mereka menggunakan bahasa Jawa, tetapi jika berbicara dengan temannya, Gani menggunakan bahasa Indonesia.
Bu Susi yang lelah membangunkan Gani, memutuskan untuk pergi dari kamar Gani. Hari mulai siang, dan Gani akhirnya bangun dari tidurnya. Dia langsung melihat jam di ponselnya dan ternyata sudah jam 11.40 siang. Tak lama setelah melihat jam, suara notifikasi berbunyi di ponselnya, ternyata notifikasi dari temannya yang bernama Banu.
Banu bertanya, “Gani, jadi keluar?”
Gani bingung dan bertanya, “Keluar kemana?”
Banu menjawab, “Kamu bilang mau ke pantai.”
Gani terkejut dan menepuk dahinya, “Ya Allah, aku lupa.” Ternyata Gani melupakan janjinya kepada Banu untuk berlibur ke pantai. Ini karena dia tidur terus. Gani pun melanjutkan percakapannya dengan Banu.
Banu bertanya lagi, “Jadi gimana, jadi tidak?”
Gani menjawab, “Gimana ya, aku malas sekali keluar, tapi aku ingin ke pantai.”
Banu menjawab, “Gimana sih Gan, pilih salah satu dong, jangan plin plan.”
Gani bingung, di satu sisi dia ingin beristirahat dan malas beraktivitas, di sisi lain dia sudah berjanji kepada Banu dan memang dia ingin ke pantai tapi dia malas beraktivitas.
Gani pun memutuskan untuk ikut ke pantai meski dia malas, tetapi demi menghargai temannya, dia mau ikut. Gani menjawab, “Oke deh Banu, kita jadi ke pantai.”
Banu menjawab, “Nah gitu dong, harus optimis. Oke deh, aku jemput nanti ya?”
Gani menjawab, “Oke.”
Setelah ber-SMS-an dengan Banu, Gani memutuskan untuk ke kamar mandi, membersihkan dirinya dan tak lupa mengambil wudhu untuk sholat Dzuhur. Setelah Gani sudah melaksanakan semuanya, dia pun pergi menuju kamar ibunya untuk minta izin keluar.
“Assalamualaikum bu,” ucap Gani sembari mengetuk pintu kamar Bu Susi. Bu Susi pun membuka pintunya dan menjawab salam dari Gani.
“Sudah bangun kamu, sini masuk,” ucap Bu Susi menyuruh Gani masuk ke kamarnya. Bu Susi pun mempersilahkan Gani duduk di kasurnya.
“Gini bu, aku mau minta izin keluar sama Banu,” jelas Gani.
“Mau kemana?” tanya Bu Susi.
“Ke pantai bu,” jawab Gani.
“Ya sudah, hati-hati di jalan,” ucap Bu Susi. Gani pun mencium punggung tangan Bu Susi.
Banu yang mengetuk pintu dari luar dan memanggil nama Gani tak lupa mengucapkan salam. Gani yang mendengar itu, berlari ke halaman rumah untuk membuka pintu dan mempersilahkan Banu masuk ke rumahnya yang indah itu, dengan cat kuning keemasan. “Waalaikumsalam, masuk Banu,” ucap Gani.
“Iya terima kasih, ayo kita langsung berangkat saja,” jawab Banu dan langsung mengajaknya pergi ke pantai.
=====
Perkenalkan, saya Lusiana Syafitri, lahir pada 2007. Berasal dari kampung sebelah, di depan Basmalah, Karangpranti nama desanya. Saya memiliki motto hidup yang menginspirasi saya untuk terus berjuang dan berkarya, yaitu “Sebuah proses pasti penuh air mata, tapi di ujung cerita ada cita-cita yang sedang menanti.” Terimakasih.
Komentar Terbaru