Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Kejarlah Impianmu! ~ Lusiana Syafitri

Lili menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang berkilau. Ia duduk di halaman rumahnya yang sederhana, bersama ayahnya yang baru pulang dari sawah. Lili adalah seorang gadis mungil yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia bercita-cita tinggi untuk menjadi wanita sukses di masa depan.

“Ayah, apakah masa depanku akan seterang bintang-bintang itu?” tanya Lili kepada ayahnya, Pak Herman.

Pak Herman tersenyum dan memeluk Lili dengan sayang. “Tentu saja, nak. Kamu bisa mencapai apa pun yang kamu inginkan, asalkan kamu mau berusaha keras, rajin belajar, dan tidak lupa beribadah kepada Allah. Allah akan selalu membantumu, nak.”

Lili mengangguk dan membalas pelukan ayahnya. Ia merasa beruntung memiliki ayah yang begitu baik dan mendukungnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membuat ayahnya bangga dengan prestasinya.

Pagi hari telah tiba. Lili terbangun dari tidurnya yang nyenyak oleh sinar matahari yang masuk lewat jendela kamarnya. Ia bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih dan mengambil wudhu. Ia ingin sholat sunah dhuha sebelum berangkat sekolah.

Setelah sholat, Lili mengangkat kedua tangannya dan berdoa kepada Allah. “Ya Allah, lindungilah keluargaku dari marabahaya, ampunilah dosa kedua orang tuaku, dan aku mohon dukunglah aku untuk menjadi orang yang sukses, ridhoilah perjalananku selama menuntut ilmu dan mengejar cita citaku, amin yarobbal alamin.”

Doa Lili diamini oleh ibunya, Bu Atin, yang datang menghampirinya. Bu Atin adalah seorang ibu rumah tangga yang selalu mendampingi dan menyayangi Lili. Ia memeluk Lili dan memberinya semangat. “Lili, kamu harus tetap semangat ya nak. Kamu pasti bisa mencapai cita-citamu. Ibu selalu mendoakanmu.”

Lili tersenyum dan mencium tangan ibunya. Ia merasa beruntung memiliki ibu yang begitu baik dan mendukungnya. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membuat ibunya bahagia dengan prestasinya.

Lili dan ibunya kemudian menuju meja makan untuk sarapan bersama. Namun, Lili merasa ada yang kurang. Ia tidak melihat ayahnya di sana. Ia bertanya kepada ibunya, “Bu, ayah kemana?”

Bu Atin menghela napas dan menjawab, “Ayahmu sudah pergi kerja, nak. Tadi dia buru-buru, jadi tidak sempat sarapan.”

Lili merasakan sedih mendengar itu. Ia tahu ayahnya bekerja keras sebagai buruh tani untuk membiayai sekolahnya. Ia berdoa di dalam hatinya, “Ya Allah, berilah kekuatan kepada ayahku untuk menjalani ujian ini, dan lindungilah kedua orang tuaku dimanapun mereka berada. Amin.”

Baca juga:  Gotong royong di MAN 2 PROBOLINGGO ~ Aprilia Anggraini Putri

Bu Atin melihat wajah Lili yang murung dan mengusap pipinya dengan lembut. “Lili, jangan sedih ya nak. Ayahmu pasti baik-baik saja. Dia sangat mencintaimu dan ingin kamu sukses. Kamu harus segera sarapan sekarang, jangan sampai terlambat ke sekolah.”

Lili mengangguk dan mulai menyantap sarapannya dengan lahap. Ia ingin segera berangkat ke sekolah dan belajar dengan giat.

Lili bersepeda menuju sekolahnya dengan semangat. Ia ingin belajar sebanyak mungkin dan menunjukkan prestasinya kepada orang tuanya. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah kepadanya.

Di depan gerbang sekolah, Lili disambut oleh gurunya, Bu Ratmi. Bu Ratmi adalah wali kelas Lili yang sangat menyayangi dan menghargai Lili. Ia selalu memberikan motivasi dan bimbingan kepada Lili agar Lili bisa meraih cita-citanya.

Hari itu agenda di sekolah hanya pengumuman kelulusan untuk kelas 6. Mengisi kekosongan waktu, para sisiwa banyak yang berkumpul di kantin atau di lapangan. Sementara Lili, lebih memilih ke perpustakaan untuk membaca buku. Ia suka sekali membaca buku yang menginspirasi dan memotivasi dirinya.

Di perpustakaan, Lili mencari buku yang berjudul “KEJARLAH IMPIANMU”. Ia sudah lama ingin membaca buku itu. Ia mendengar bahwa buku itu bercerita tentang kisah nyata seorang anak miskin yang berhasil meraih cita-citanya dengan tekad dan usaha yang keras.

Lili menemukan buku itu di rak nomor tiga. Ia mengambilnya dan membawanya ke meja baca. Ia mulai membuka halaman pertama dan membacanya dengan penuh perhatian.

Buku itu sangat menarik bagi Lili. Ia merasa terhubung dengan tokoh utama dalam buku itu. Ia merasakan apa yang dirasakan oleh tokoh itu. Ia juga belajar banyak dari perjuangan dan pengalaman tokoh itu.

Lili membaca buku itu sampai lupa waktu. Ia baru sadar ketika ada pengumuman agar seluruh siswa berkumpul di kelas masing-masing. Ia buru-buru mengembalikan buku itu ke rak dan berlari menuju kelasnya.

Di kelasnya, Lili melihat Bu Ratmi sudah ada di depan papan tulis. Bu Ratmi adalah gurunya yang selalu memberinya dukungan dan bantuan. Lili sangat menghormati dan menyayangi Bu Ratmi.

“Assalamualaikum, Bu Ratmi,” sapa Lili sambil masuk ke kelas.

Baca juga:  4 Kewajiban Terhadap Jenazah ~ Yunita Saifilla

“Waalaikumsalam, Lili. Kamu datang tepat waktu,” sahut Bu Ratmi.

Lili duduk di kursinya dan menunggu Bu Ratmi berbicara. Ia penasaran apa yang akan disampaikan oleh Bu Ratmi.

“Anak-anak, saya ada kabar penting untuk kalian,” kata Bu Ratmi dengan serius. “Kabar ini berkaitan dengan kelulusan kalian dari sekolah dasar.”

Seluruh siswa di kelas enam menjadi tegang dan diam. Mereka semua ingin tahu apakah mereka lulus atau tidak.

Bu Ratmi melanjutkan perkataannya. “Alhamdulillah, saya senang sekali bisa memberitahu kalian bahwa kalian semua lulus dari sekolah dasar dengan nilai yang baik. Selamat ya, anak-anak!”

Seluruh siswa di kelas enam bersorak dan bertepuk tangan. Mereka semua merasa lega dan bahagia. Mereka telah menyelesaikan pendidikan dasar mereka dengan sukses.

Bu Ratmi juga ikut tersenyum dan berbahagia melihat anak-anak didiknya berhasil. Ia bangga pada mereka.

“Tapi tunggu dulu, anak-anak,” kata Bu Ratmi lagi. “Saya masih ada kabar lain untuk kalian. Kabar ini berkaitan dengan penghargaan untuk murid yang berprestasi di kelas enam tahun dua ribu dua puluh.”

Seluruh siswa di kelas enam menjadi penasaran lagi. Mereka semua ingin tahu siapa murid yang berprestasi itu.

Bu Ratmi mengambil sebuah amplop dari mejanya dan membukanya. Ia mengeluarkan sebuah surat dari dalam amplop itu.

“Surat ini adalah surat penghargaan untuk murid yang berprestasi di kelas enam tahun dua ribu dua puluh,” kata Bu Ratmi sambil menunjukkan surat itu kepada seluruh siswa di kelas enam.

“Dan nama murid yang berprestasi itu adalah…”

Bu Ratmi berhenti sejenak dan menatap seluruh siswa di kelas enam dengan penuh harap. Ia ingin melihat reaksi mereka ketika ia menyebutkan nama murid yang berprestasi itu.

“Nama murid yang berprestasi itu adalah Lili Ramadhani!” kata Bu Ratmi dengan lantang.

Lili terkejut mendengar namanya dipanggil oleh Bu Ratmi. Ia tidak percaya bahwa ia adalah murid yang berprestasi di kelas enam tahun dua ribu dua puluh. Ia merasa tidak pantas mendapatkan penghargaan itu.

Lili menundukkan kepalanya dan menangis. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia menangis bukan karena sedih, tapi karena bahagia. Ia bahagia karena usahanya selama ini tidak sia-sia. Ia bahagia karena ia telah membuktikan bahwa ia bisa menjadi anak yang pintar dan berbakti kepada orang tuanya.

Baca juga:  Love Your Self ~ Yunita Saifilla

Lili juga mengucapkan syukur kepada Allah SWT yang telah memberinya nikmat dan karunia yang luar biasa. Ia bersyukur karena Allah SWT telah memberinya kesempatan untuk belajar dan berkembang. Ia bersyukur karena Allah SWT telah memberinya guru-guru yang baik dan peduli.

Bu Ratmi melihat Lili menangis dan tersenyum. Ia mengerti perasaan Lili. Ia tahu bahwa Lili adalah anak yang rendah hati dan bersyukur. Ia tahu bahwa Lili adalah anak yang rajin dan tekun. Ia tahu bahwa Lili adalah anak yang pantas mendapatkan penghargaan itu.

Bu Ratmi berjalan menuju Lili dan memeluknya dengan hangat. Ia memberikan surat penghargaan itu kepada Lili dan mengucapkan selamat kepadanya.

“Selamat ya, Lili. Kamu pantas mendapatkan penghargaan ini. Kamu adalah murid yang berprestasi di kelas enam tahun dua ribu dua puluh,” kata Bu Ratmi sambil mengusap air mata Lili.

“Terima kasih, Bu Ratmi. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak/Ibu guru semua yang telah mengajar saya dengan sabar dan penuh kasih sayang,” kata Lili sambil tersenyum.

Seluruh siswa di kelas enam juga ikut memberikan tepuk tangan dan ucapan selamat kepada Lili. Mereka semua bangga pada Lili. Mereka semua mengakui bahwa Lili adalah murid yang berprestasi di kelas enam tahun dua ribu dua puluh.

Lili merasa sangat senang dan bahagia. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang paling indah dalam hidupnya. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang penuh dengan keajaiban dan keberkahan.

Lili berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan terus belajar dan berusaha untuk meraih cita-citanya. Ia berjanji bahwa ia akan terus mengikuti jejak tokoh dalam buku “KEJARLAH IMPIANMU”. Ia berjanji bahwa ia akan terus menjadi anak yang pintar dan berbakti kepada orang tuanya.

Lili tersenyum dan mengangkat surat penghargaannya ke udara. Ia berseru dengan penuh semangat:

“Kejarlah impianmu!”

=====

Perkenalkan, saya Lusiana Syafitri, lahir pada 2007. Berasal dari kampung sebelah, di depan Basmalah, Karangpranti nama desanya. Saya memiliki motto hidup yang menginspirasi saya untuk terus berjuang dan berkarya, yaitu “Sebuah proses pasti penuh air mata, tapi di ujung cerita ada cita-cita yang sedang menanti.” Terimakasih.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR