Sebagian cinta berakhir bahagia bersama pasangannya. Mereka merasa ditakdirkan untuk saling memiliki. Tapi itu hanya sebagian saja. Tak semua orang dapat merasakannya, terlebih lagi mereka yang mencintai orang berbeda kepercayaan.
Aku tahu dengan jelas bahwa Tuhan kami berbeda, tapi aku tak pernah menghiraukannya. Aku hanya ingin bersamanya, orang yang selalu membuatku tenang dengan senyumnya.
Dia bilang, “Karena kita punya cinta.” Itu alasan kami untuk tetap bersatu.
Entahlah, aku juga tak tahu mengapa ini harus terjadi. Kami adalah dua remaja yang terlalu jauh melangkah dan lupa menoleh ke belakang. Kami tak pernah menyadari bahwa kami tak seharusnya bersama.
Kami baru menyadarinya saat kami ingin menikmati mie di sore hari. Tangan kami saling menggenggam, tapi doa kami berbeda. Aku mengucapkan doa sesuai agamaku, dia pun begitu.
Dia bilang, “Kita ditakdirkan untuk bersama.”
Tapi saat aku bertanya, “Tuhanmu atau Tuhanku yang menakdirkan kita untuk bersama?” dia diam.
Aku tahu jawabannya. Kami tak punya masa depan bersama. Kami hanya punya cinta, tapi dunia punya norma. Norma yang tak membolehkan kami bersatu.
Kami harus mengakhiri ini. Kami harus menyelesaikan apa yang salah. Kami harus melepaskan cinta kami demi Tuhan kami masing-masing.
=====
Yunita Saifilla, lahir di tanjung 26 Maret 2008 dan menetap di tanjung. Menyelesaikan pendidikan sd di SDN tanjung pajarakan, lalu melanjutkan di SMPN 1 Pajarakan dan sekarang bersekolah di MAN 2 Probolinggo. Hobi membaca dan melukis. Bercita-cita menjadi guru. Instagram @onyours_afil
Komentar Terbaru