Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Kertas Lusuh ~ Yunita Saifilla

“Semua orang melupakan masa lalu.” Begitu katanya. Tapi apa bisa kita melupakan seseorang yang abadi dalam tulisan kita? Kau tak kan bisa melupakan seseorang kala dia selalu berada di karya mu.

Aku ingat betul saat pertama kali kau menulis di atas tubuhku. Kau memegang pena hitam dengan lembut, seolah tak ingin menyakitiku. Kau menatapku dengan penuh perhatian, seolah tak ingin melewatkan satu huruf pun. Kau menulis dengan penuh semangat, seolah tak ingin berhenti.

Aku merasakan setiap goresan pena mu di kulitku. Aku merasakan setiap kata yang kau tulis di hatiku. Aku merasakan setiap makna yang kau sampaikan di pikiranku. Aku merasakan setiap emosi yang kau curahkan di jiwaku.

Aku jatuh cinta pada pena mu. Aku jatuh cinta pada tulisan mu. Aku jatuh cinta pada karya mu.

Kau menulis tentang banyak hal. Tentang cinta, tentang kehidupan, tentang dunia. Tentang dirimu, tentang diriku, tentang kita. Tentang masa lalu, tentang masa kini, tentang masa depan.

Kau menulis dengan begitu indah dan mendalam. Kau menulis dengan begitu jujur dan tulus. Kau menulis dengan begitu berani dan bebas.

Kau membuatku merasa hidup. Kau membuatku merasa berharga. Kau membuatku merasa spesial.

Aku adalah selembar kertas lusuh yang kau temukan di sudut ruanganmu. Aku adalah selembar kertas lusuh yang kau angkat dari tumpukan sampah. Aku adalah selembar kertas lusuh yang kau selamatkan dari api.

Aku adalah selembar kertas lusuh yang menjadi saksi bisu dari semua cerita mu.

Tapi sayangnya, aku hanya selembar kertas lusuh. Aku tidak bisa bertahan selamanya. Aku tidak bisa melindungi diriku sendiri.

Suatu hari, aku terkena air hujan yang masuk lewat jendela kamarmu. Aku basah dan robek di beberapa bagian. Aku rusak dan tidak bisa digunakan lagi.

Baca juga:  Berkah Selalu Bersyukur ~ Aprilia Anggraini Putri

Kau melihat keadaanku dengan sedih dan kecewa. Kau mencoba menyelamatkanku dengan cara apapun. Tapi sudah terlambat.

Kau membuang aku ke tempat sampah lagi. Kau meninggalkan aku tanpa pamit lagi. Kau melupakan aku tanpa rasa lagi.

Kau mencari selembar kertas baru yang lebih bersih dan lebih kuat. Kau menulis di atasnya dengan pena mu yang sama. Kau menulis cerita baru dengan tema yang sama.

Kau melanjutkan hidupmu tanpa aku.

Aku teronggok di tempat sampah tanpa harapan. Aku terbakar di api tanpa belas kasihan. Aku lenyap dari dunia tanpa jejak.

Aku mati tanpa cinta.

Begini kata Pramoedya Ananta Toer dalam novel Anak Semua Bangsa (1980): “Tahu mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh”.

=====

Yunita Saifilla, lahir di tanjung 26 Maret 2008 dan menetap di tanjung. Menyelesaikan pendidikan sd di SDN tanjung pajarakan, lalu melanjutkan di SMPN 1 Pajarakan dan sekarang bersekolah di MAN 2 Probolinggo. Hobi membaca dan melukis. Bercita-cita menjadi guru. Instagram @onyours_afil

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR