Minggu, 06 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Kemenangan Sejati ~ Lusiana Syafitri

Mengalah itu tidak selalu berarti kalah. Mengalah dalam hubungan adalah lebih kepada mengalah untuk menang pada akhirnya. Itulah yang dilakukan oleh Zaidan dan Aisyah, pasangan suami istri yang baru menikah sebulan lalu. Mereka memiliki kisah cinta yang sangat indah dan patut dicontoh oleh pasangan lainnya.

Sebelum menikah, banyak perdebatan yang tak sejalan antara keduanya, terutama dalam hal tempat tinggal. Zaidan ingin tinggal di kota, sementara Aisyah lebih suka di desa. Selalu dan hampir tiap kali mereka membicarakan hal itu, semua tak sejalan dengan pikiran mereka.

Akhirnya, salah satu dari mereka mengalah. Zaidan menuruti keinginan Aisyah untuk tinggal di desa.

“Yaudah, aku turuti keinginanmu. Tapi jika aku bisa membangun rumah sendiri, kamu harus mau ya,” ucap Zaidan kepada Aisyah.

Aisyah pun mengangguk sambil berterima kasih telah menuruti keinginannya.

Pernikahan mereka berjalan dengan penuh kebahagiaan, hingga akhirnya Aisyah membawa kabar gembira kepada suaminya. Aisyah memberitahu bahwa ia sedang mengandung. Zaidan yang mendengar itu wajahnya penuh senyuman lalu mencium kening Aisyah.

Zaidan mengajak Aisyah untuk cek kandungan ke rumah bidan yang bernama Bu Nike. Zaidan pun beranjak ke garasi untuk mengeluarkan mobilnya karena ingin mengantar Aisyah ke rumah Bu Nike. Sang suami dengan sangat pelannya membawa mobilnya itu, karena takut perut sang istri terguncang.

Tak lama kemudian sampailah mereka di rumah Bu Nike yang terletak di desa Karangpranti dusun Ibrak. Zaidan dengan kepekaannya membukakan pintu mobilnya untuk istrinya, lalu dengan sigap menggandeng sang istri.

Wajah Aisyah penuh dengan pertanyaan.

“Kenapa harus digandeng?” tanya Aisyah dengan polosnya.

“Tidak apa-apa, cuma jaga-jaga takut terpeleset,” jawab Zaidan sembari tersenyum kepada Aisyah.

“Yaudah kita masuk yuk!” ajak Zaidan untuk masuk ke rumah Bu Nike, dan dibalas anggukan oleh Aisyah.

Mereka mengucap salam dan disambut dengan ramah oleh Bu Nike sembari menyuruh mereka untuk masuk ke dalam rumahnya.

Rumah Bu Nike sangat indah dengan cat putih salju dan lampu gantung berwarna kuning. Bu Nike pun mempersilakan Zaidan dan Aisyah untuk masuk ke ruang prakteknya dan menyuruh Aisyah untuk berbaring di kasur yang telah disediakan. Bu Nike pun memulai praktiknya. Zaidan yang berada di samping Aisyah menemaninya.

Baca juga:  Rela ~ Lusiana Syafitri

Cek up pun sudah selesai, dan saatnya Bu Nike memberitahu keadaan kandungan Aisyah saat ini.

“Kandungan Aisyah baik-baik saja, dan usia kandungannya sudah dua minggu,” ucap Bu Nike.

Zaidan dan Aisyah yang mendengar hal itu sangat bahagia dan tak lupa bersyukur kepada Tuhan, karena semua itu karunia dari Tuhan.

“Oke, saya akan memberi vitamin untuk memastikan kebutuhan nutrisinya terpenuhi selama kehamilannya,” ucap Bu Nike sembari memberi vitaminnya kepada pasangan suami istri yang berbahagia itu.

Mereka pun berpamitan kepada Bu Nike setelah selesai membayar vitamin yang mereka beli.

Mereka menuju mobilnya. Zaidan melajukan mobilnya dengan sangat pelan, tak ingin terjadi sesuatu kepada istrinya. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan penjual es krim. Aisyah yang melihat itu sangat ingin membeli es krim itu. Tak salah lagi sekarang dia sedang ngidam. Zaidan yang melihat wajah istrinya seperti menahan keinginannya untuk membeli es krim itu, menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil untuk membeli es krim buat istri kesayangannya itu.

Setelah mendapatkan es krim yang diinginkan Aisyah, Zaidan kembali ke mobil.

“Ini es krimnya, Say,” ucap Zaidan sembari memberikan eskrimnya.

“Terima kasih, Suamiku,” ucap Aisyah dengan senyum.

Akhirnya mereka sampai di rumah Aisyah. Pasangan suami istri itu menuju kamarnya untuk melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. Mereka berdoa kepada Tuhan, meminta perlindungan kepadanya, dan berdoa agar bayi mereka lahir dengan sempurna dan sehat.

Delapan bulan sudah berlalu, kini usia kandungan Aisyah sudah sembilan bulan. Perutnya sudah mulai membuncit dan tak lama lagi bayi itu lahir ke dunia. Saat Aisyah hamil sembilan bulan, datanglah masalah baru. Zaidan ingin setelah Aisyah melahirkan anaknya berada di rumah Zaidan. Tetapi Aisyah menolak, dia ingin tetap di rumahnya, karena dia malu dengan mertuanya.

“Nanti kalau anak kita sudah lahir kita tinggal di rumahku ya?” tanya Zaidan.

Baca juga:  Apa itu cinta? ~ Lesti Abelia

“Aku gak mau, aku maunya di sini di rumahku sendiri, karena aku malu dengan kedua orang tuamu. Aku takut merepotkan mereka,” jawab Aisyah dengan nada sedih.

Zaidan sangat kecewa mendengar hal itu. Hampir setiap hari mereka membahas hal itu, hasilnya tetap sama. Tidak ada yang mau mengalah dari salah satu mereka. Sang istri setiap malam menangis, karena suaminya yang egois itu. Padahal Aisyah sedang hamil sembilan bulan, dan mereka malah berdebat.

Jam menunjukkan pukul 21.00 malam. Dengan awan yang gelap yang penuh bintang dan ditemani oleh bulan, terlihat seorang wanita yang tengah duduk di halaman rumahnya menatapi bintang-bintang sembari meneteskan air mata. Wanita itu ialah Aisyah yang sedang memikirkan keegoisan suaminya yang tak mau mengalah.

“Ya Tuhan, ujian apa lagi ini?” Aisyah mengeluh kepada Tuhan sembari menangis.

Zaidan yang mengintip dari jendela tak tega melihat istrinya menangis dengan kondisi lagi hamil besar.

“Apakah aku harus mengalah?” tanya Zaidan kepada dirinya sendiri. Zaidan pun menyadari kalau dia tidak boleh egois, apalagi istrinya sedang mengandung besar dan tak lama lagi bayinya akan lahir ke dunia.

Aisyah yang sudah merasa tenang, memutuskan masuk ke dalam rumahnya untuk istirahat. Zaidan yang melihat Aisyah ingin memasuki kamarnya, langsung berpura-pura tidur. Aisyah yang sudah memasuki kamarnya itu, merebahkan tubuhnya di kasur dan segera istirahat.

Terdengar adzan subuh dari masjid, kebetulan rumah mereka dekat dengan masjid. Zaidan yang mendengar adzan terbangun dari tidurnya dan segera mengambil wudhu untuk sholat subuh. Tak lupa Zaidan membangunkan istrinya yang tengah tidur dengan wajah yang sangat indah.

“Assalamualaikum, ya zaujati. Bangunlah dan ayo kita sholat subuh,” ajak Zaidan untuk sholat subuh.
Aisyah pun membuka matanya berat dan menjawab, “Waalaikumsalam.” Aisyah terkejut melihat suaminya yang membangunkannya dengan halus, padahal perdebatan di antara mereka belum selesai. Aisyah pun mengambil wudhu dan segera melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan Zaidan.

Setelah melaksanakan sholat subuh, Zaidan dan Aisyah berbicara empat mata. Mereka membahas perdebatan yang kemarin. Zaidan memulai pembicaraannya.

Baca juga:  Hadiah Berharga Untuk Zain ~ Panca Putri Aisyah Nurul Jannah

“Kamu mau tetap tinggal di rumahmu ini kan?” tanya Zaidan. Aisyah pun mengangguk.

“Oke, aku akan turuti keinginanmu dan jangan pernah sedih lagi. Toh nanti bayi kita akan lahir ke dunia,” ucap Zaidan. Aisyah yang mendengar itu sangat bahagia langsung memeluk Zaidan tak lupa mengucapkan terima kasih.

Keesokan harinya, perut Aisyah terasa sakit. Zaidan yang berada di samping Aisyah melihat dia kesakitan, wajahnya terlihat cemas.

“Hiks… sakit banget perutku, ya Allah,” keluh Aisyah sembari menahan sakit di perutnya itu.
Dengan cemas, Zaidan bertanya kepada Aisyah, “Kamu kenapa, Aisyah? Perutmu sakit? Ayo kita ke rumah Bu Nike, yah. Mungkin kamu mau melahirkan.” Ucap Zaidan tergesa-gesa karena dia sangat panik dengan keadaan Aisyah dan bayinya itu.

Zaidan pun langsung membawa Aisyah ke rumah bidan Nike. Di dalam mobil, Zaidan yang tak tega melihat Aisyah sedang kesakitan, ia melajukan mobilnya agar cepat sampai ke rumah bidan Nike. “Kamu tenang, yah, Sayang. Bentar lagi kita sampai,” ucap Zaidan sambil memegang tangan Aisyah.

Akhirnya mereka sampai ke rumah bidan Nike. Zaidan yang panik segera menggendong Aisyah dan membawanya ke dalam ruang persalinan.

Bu Nike yang terkejut melihat Zaidan menggendong Aisyah segera memberikan intruksi, “Ayo, Zaid. Cepat bawa Aisyah ke ruang persalinan!” perintah Bu Nike.

Sesampai di ruang persalinan, Zaidan tak tega melihat Aisyah yang sedang kesakitan. Ia berdoa agar proses persalinannya lancar dan bayinya sehat. Setelah beberapa jam berjuang, lahir lah bayi mereka ke dunia dengan keadaan sempurna dan jenis kelaminnya laki-laki. Zaidan langsung mengadzaninya dan memberikan nama bayi itu “Muhammad Zakaria”, panggilannya Zaka. Akhirnya keluarga kecil mereka hidup bahagia dan damai.
=====

Perkenalkan, saya Lusiana Syafitri, lahir pada 2007. Berasal dari kampung sebelah, di depan Basmalah, Karangpranti nama desanya. Saya memiliki motto hidup yang menginspirasi saya untuk terus berjuang dan berkarya, yaitu “Sebuah proses pasti penuh air mata, tapi di ujung cerita ada cita-cita yang sedang menantinya.” Terimakasih.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR