Rabu, 02 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Mencari Rumah yang Sebenarnya ~ Putri Sri Utami

Citra adalah seorang gadis yang tinggal di desa Gejugan bersama kedua orangtuanya. Ayahnya, Pak Ali, bekerja sebagai kuli bangunan. Sedangkan ibunya, Ibu Siti, hanya mengurus rumah tangga. Citra bukan anak kandung Ibu Siti, melainkan anak tiri. Ibu kandungnya sudah meninggal saat Citra masih bayi. Citra memiliki seorang kakak laki-laki yang sudah berumah tangga dan tinggal terpisah dari mereka.

Citra bersekolah di salah satu madrasah di Pajarakan. Dia adalah siswi yang rajin dan pintar. Dia bercita-cita menjadi seorang dokter agar bisa membantu orang-orang yang sakit. Namun, dia juga sering merasa sedih karena merasa tidak dicintai oleh ayah dan ibu tirinya.

Citra tidak hanya berbeda nasib dengan kakaknya, tetapi juga berbeda penampilan. Kulitnya hitam manis, sedangkan kakaknya putih bersih. Hal ini sering membuatnya menjadi sasaran ejekan dan perbandingan dari orang-orang di sekitarnya.

“Ko beda banget sama kakaknya?” sindir seorang tetangga dengan nada sinis.

“Cantikan kakaknya daripada adeknya,” komentar seorang teman sekolah dengan nada sombong.

Ucapan-ucapan itu selalu menusuk hati Citra. Dia merasa tidak dihargai dan dicintai karena warna kulitnya. Namun, dia berusaha untuk tidak peduli dan tetap bersikap tegar. Dia tahu bahwa warna kulit bukanlah segalanya. Yang penting adalah hati dan prestasi.

Orang tuanya juga sangat keras dalam mendidik Citra. Mereka mengharapkan Citra menjadi anak yang sukses dan membahagiakan mereka. Mereka selalu menekankan pentingnya belajar dan berprestasi di sekolah. Mereka jarang memberikan kasih sayang atau pujian kepada Citra. Mereka hanya mengkritik dan memarahi Citra jika dia melakukan kesalahan.

Citra merasa tertekan dan kesepian. Dia merasa seperti seorang anak yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Dia tidak punya tempat untuk curhat atau bersenang-senang. Dia hanya punya buku-buku dan mimpi-mimpinya sebagai teman. Setiap malam, dia menangis pelan di bawah selimutnya.

Baca juga:  Bulan Imunisasi Anak Nasional 2022

Suatu hari, Citra mengalami kejadian yang sangat menyakitkan. Dia dipukul oleh ayahnya tanpa alasan yang jelas. Kejadian itu bermula saat Citra pulang sekolah sore hari. Dia merasa lelah dan ingin beristirahat sejenak. Namun, ibu tirinya tidak memberinya kesempatan untuk beristirahat. Ibu tirinya menyeretnya ke dapur dan menyuruhnya mengerjakan semua pekerjaan rumah.

“Citra! Seenaknya kamu duduk! Pekerjaan di belakang belum kamu kerjakan! Jemuran belum kamu lipat, cucian piring juga menumpuk, ruang tamu belum kamu sapu, terus baju kotor juga belum kamu cuci! Udah sana, cepat! Jangan malas-malasan!” teriak ibu tirinya dengan marah.

Citra hanya bisa menghela nafas dan berkata di dalam hatinya, “Yallah, baru juga nyampe.”

Citra pun bergegas mengerjakan semua pekerjaan rumah yang diperintahkan oleh ibu tirinya. Dia tidak sempat makan atau minum. Dia hanya ingin segera selesai dan berbaring di kamarnya. Namun, nasib malang menimpanya. Saat dia sedang mencuci baju kotor di belakang rumah, ayahnya pulang dari kerja. Ayahnya tampak murung dan gelisah. Dia langsung menuju ke dapur dan mencari sesuatu untuk diminum.

Citra tidak menyadari kedatangan ayahnya. Dia terus mencuci baju kotor dengan asyiknya. Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang keras menghantam kepalanya dari belakang. Dia terjatuh ke tanah dengan kepala berdarah. Dia menoleh dan melihat ayahnya berdiri di atasnya dengan wajah merah dan mata nanar.

“Apa-apaan kamu? Mengapa kamu tidak menyambut ayah? Mengapa kamu tidak memberi ayah minum? Kamu anak yang tidak tahu diri! Kamu anak yang tidak tahu bakti!” bentak ayahnya sambil mengangkat tangannya untuk memukul Citra lagi.

Citra terkejut dan ketakutan. Dia tidak mengerti apa yang salah dengan ayahnya. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia hanya bisa menangis dan memohon ampun kepada ayahnya.
“Maafkan aku, Ayah! Aku tidak sengaja! Aku tidak tahu Ayah sudah pulang! Aku sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang disuruh Ibu! Tolong jangan pukul aku lagi, Ayah!” ratap Citra sambil memegang kepalanya yang berdarah.

Baca juga:  Sean & Lian ~ Syafhira Khoirotun Zahra

Setelah itu, ia berdiri dan bergegas untuk melakukan perintah ayahnya untuk mengambilkan air. Beberapa menit kemudian, ketika Citra sudah melakukan pekerjaan rumah, ia pun pergi ke kamar untuk istirahat sejenak. Namun, ia lupa bahwa baju kotornya belum dicuci. Dengan keadaan tertidur dengan lelap, ia tidak menyadari apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ketika ayahnya ingin pergi mandi, ia berhenti sejenak melihat banyak tumpukan baju kotor. Ayahnya pun marah dan ia segera memanggil istrinya.

“Kenapa di belakang masih banyak baju kotor berserakan? Kenapa tidak dicuci?” teriak ayahnya dengan keras.

Istrinya pun menjawab dengan nada dingin, “Tadi aku sudah menyuruh Citra untuk segera mencuci itu semua. Citra saja yang malas-malasan. Entah di mana anak itu sekarang.”

Dengan rasa amarah, ayahnya mengambil gayung yang berisi air dan menuju ke kamar Citra. Ayahnya pun langsung masuk dan menyiram Citra yang sedang tertidur pulas. Citra kaget dan langsung terbangun. Dia merasakan air dingin membasahi tubuhnya. Dia melihat ayahnya berdiri di depannya dengan wajah murka.

“Ayah, maafkan aku! Aku lupa mencuci baju kotor!” ucap Citra dengan ketakutan.

Ayahnya tidak peduli dengan permintaan maaf Citra. Ayahnya memukuli badan Citra dengan sapu lidi sembari berkata, “Kamu ini tidak bisa bantu orang tua sama sekali! Nyusahin aja kerjaannya datang sekolah bukannya bantuin ibu di belakang malah langsung tidur! Nyesel bapak punya anak kayak kamu!”

Citra merintih kesakitan. Dia mencoba melindungi dirinya dengan tangannya. Dia tidak mengerti mengapa ayahnya begitu kejam padanya. Dia hanya ingin belajar dan berprestasi di sekolah. Dia berharap ada yang menolongnya dari siksaan ayahnya.

“Kenapa Ayah membenciku? Apa salahku? Tolong hentikan, Ayah! Sakit!” pikir Citra sambil menangis.

Baca juga:  Rasa Penasaran ~ Adinda Rizqiyatul Hasanah

Setelah itu, ayahnya pergi keluar dan mengunci kamar Citra. Keadaan Citra pada saat itu sangat menyedihkan. Air mata yang tak kunjung berhenti menahan rasa sakit di kakinya. “Mental anak mana yang kuat jika diperlakukan seperti ini? Dari banyaknya pukulan, hanya pukulan dari ayah yang membuat aku trauma,” ucapnya.

Setelah kejadian itu, Citra tidak tahan lagi untuk tinggal di rumahnya. Dia merasa tidak ada lagi harapan dan kebahagiaan di sana. Dia merasa tidak ada lagi cinta dan pengertian di sana. Dia merasa hanya ada kekerasan dan kesakitan di sana. Dia memutuskan untuk pindah ke rumah neneknya di desa Rondokuning. Dia berharap di sana dia bisa menemukan kedamaian dan kenyamanan yang selama ini dia rindukan.

Citra menyadari bahwa orang tuanya tidak pernah mengerti isi hatinya. Ayahnya tidak pernah mendengarkan keluh kesahnya. Ayah dan ibunya tidak pernah memberikan dukungan dan motivasi. Ia hanya diberikan hukuman dan celaan.

Citra ingin menyampaikan pesan ini kepada semua orang tua di dunia. Citra ingin orang tua menyadari bahwa anak adalah anugerah yang harus dihargai dan dicintai. Citra ingin orang tua menyadari bahwa anak adalah individu yang memiliki hak dan perasaan. Citra ingin orang tua menyadari bahwa anak adalah masa depan yang harus dibimbing dan dididik.

=====

Hai, saya Putri. Hobi saya adalah membaca dan menggambar kaligrafi. Saya suka membuat cerita sejak MTS. Motto hidup saya adalah “Terlahir dari keluarga sederhana tidak akan menghalangiku untuk bisa meraih cita-cita”. Selamat membaca cerita pendek saya yang sederhana ini.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR