Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Malam sunyi di pedakian ~ Panca Putri Aisyah Nurul Jannah

Di perjalanan pulang sekolah, aku berjalan berkilo kilo meter di bawah terik sinar matahari yang sudah menjadi kebiasaanku, selain keterbatasan angkutan dan sedikitnya teman. Namaku Andi, hidup di desa pekan lama bersama bapak, aku gemar mendengar cerita petualangan bapak masa muda yang sering ia ceritakan di kala kami bersantai bersama.

Ibuku telah lama pergi meninggalkan kami berdua di desa, bapak tidak sama sekali mengambil pusing tentang hal itu, aku siswa SMA. Alam hanya menyisakan sedikit teman yang memiliki hobi sama sepertiku, istilah lain nya se frekuensi atau se pemikiran.

Dari awal SMA kami selalu bertiga , soliditas menjadi yang utama. Rafi, Ahmad dan aku, sayangnya minggu lalu Rafi pindah ke kota yang hanya menyisakan aku dengan Ahmad. Pekerjaan bapak dulunya mengelola sawah yang ia dapat dari warisan temurun bapaknya, namun sekarang sawah itu sudah terjual, untuk membayar lilitan hutang yang ditinggalkan ibu. Sekarang pekerjaan bapak terganti menjadi sopir truk, mengangkut pasir untuk di kirim ke kota.

Bapakku memiliki banyak cerita pada masa mudanya, selain pernah menjadi atlet yang terlupakan ia juga pernah mampu bertahan hidup setelah selamat dari kecelakaan pesawat yang hampir menewaskan seluruh penumpangnya, itu sudah menjadi dongeng keseharian ku masa kecil cerita yang diulang tapi tidak pernah bosan mendengarnya, walaupun aku tidak tau apakah itu benar nyatanya. Namun pembuktian itu terlihat dari tubuh bapak yang terlihat kekar dan segar.

Di sore hari Ahmad tengah menanti ku bersiap-siap dirumah, menyiapkan barang dan mengecek perlengkapan untuk dibawa. Aku berpamitan kepada bapak, setelah semua barang masuk ke dalam tas yang ingin ku gendong menuju puncak. Ini bukan acara mendadak, rencana kami 1 bulan sebelum Rafi pindah ke kota, dan sebelum sekolah kami di liburkan karena selesai ujian kenaikan.

Baca juga:  Saksi Saat Duka ~ Lesti Abelia

Ini pertama kalinya aku dan Ahmad mendaki gunung, dan nekat mengambil gunung tertinggi di daerah kami, tentu saja ini dengan persiapan yang cukup dan pemikiran yang matang. Setelah sampai di lokasi aku dan Ahmad makan untuk mengumpulkan energi lebih dulu, Pernahkah kalian berpikir apakah aman untuk remaja seperti kami mendaki di hari yang gelap?

Aku dan Ahmad sama-sama menyukai tantangan, dan kami juga harus berhati-hati terhadap tantangan. Nyawa adalah segalanya, kesehatan adalah anugerah, semua tergantung dari apa yang kau pergunakan, aku dan Ahmad disini sedang mencari pengalaman, sebagai anak muda yang menyukai berbagai rintangan, bukan hanya duduk sambil meminum secangkir kopi dan membahas tentang keburukan orang.

Senter kepalaku menyala di iringi senter Ahmad yang baru saja hidup, setelah mengganti baterainya yang mati. Cuaca di gunung ini cukup membuat kulit kami kedinginan, dengan perkiraan sekitar 20°C dan itu baru saja belum sampai ke puncak. Aku mewakili perjalanan di depan dan Ahmad berjaga di belakang, sejenak kita berhenti untuk mengetahui keberadaan yang telah kita pijak, jalan demi jalan yang curam, kami semestinya lebih berhati-hati tetapi Ahmad nyaris terperosok dalam jurang di sampingnya, karena minim pencahayaan dari senter. Ini adalah perjalanan yang sungguh menakjubkan, di Alam kita bisa berteman baik mengenal lebih dekat dan bahkan kita bisa membagi cerita hidup yang sedang kita jalani, dengan alam aku bisa lebih terbuka dan berbagai hal bisa di ketahui dengan berbagai keunikan yang ia miliki. Ahmad sangat pintar tentang pengetahuan rasi-rasi bintang, sehingga membuat kami bisa mengetahui letak arah yang mau kami tuju.

Malam sunyi di pendakian memberiku ketenangan yang hangat, rasa dingin membeku hilang di balik jaket bulu yang ku kenakan. Aku dan Ahmad membangun tenda sementara waktu di tengah pendakian yang kita jalani, beristirahat dengan kebisingan jangkrik-jangkrik dan hewan serangga kecil lainnya yang menjadi melodi sunyi di pegunungan.

Baca juga:  Janji Akan Amorfati ~

Setiap insan yang bernyawa pasti memiliki harapan, impian atau bahkan target yang ingin di tuju, namun tak banyak untukku hanya ingin berlabuh penuh mendaki berbagai gunung di negri ini, aku telah terpesona dengan keindahan -keindahan semesta, mencari pengalaman juga keinginanku untuk mencicipi berbagai rasa keindahan yang belum pernah aku rasakan.

Dengan menjalankan perjalanan pendakian ini, kami juga tidak lupa untuk menghadap Allah yang menciptakan langit dan bumi, aku Ahmad dan tayamum, kami berdoa agar sampai tujuan dan masih tetap utuh sampai pulang. Alam yang memancarkan keindahan, selalu mengingatkan siapa yang menciptakannya.

Aku dan Ahmad akhirnya berpijak kembali setelah beristirahat dan sholat magrib serta isya’, meski kami telah jauh dari pemukiman tetapi suara adzan samar-samar masih bisa di dengar. Kami bangkit menyusuri berbagai macam jalan, menjaga sikap dan kesopanan yang kata orang agar tidak mengganggu penunggu di sini.

Di kehidupan ini kita juga berdampingan pasti dengan yang gaib namun terdapat mitos-mitos yang tidak boleh terlalu kita percayai yang bisa saja mampu menyeret kita untuk menyekutukan Allah. Banyak macam-macam flora dan fauna yang kami temukan di pegunungan, mulai dari yang biasa bahkan yang berbisa, keunikan bunga bangkai memakan serangga dengan bau busuk yang dikeluarkan kemudian akan menarik perhatian serangga yang membantu penyerbukan.

Setelah kami berjalan 3 jam dari peristirahatan tadi, kini detik-detik kami akan sampai ke puncak, aku dan Ahmad jadi lebih bersemangat karena langit pertama sudah ada di depan mata.

Di puncak aku dan Ahmad merasa ini hanya mimpi yang menyelimuti pandangan, tetapi ini adalah nyata, kebenaran, dan benar-benar kita telah sampai. Momen ini menjadi separuh jiwaku, lelahku di terpa angin yang membuat rumput dan rambut pendek kami menari-nari. Kami dapat melihat pemandangan kota di bawah sana, penuh dengan cahaya lampu yang terang, kami ingin beristirahat lagi sejenak menunggu hari esok sampai sang surya terbit untuk menerangi kemenangan.

Baca juga:  Pergi or Meninggalkan ~ Aisyah

___

Panca Putri Aisyah Nurul Jannah. Lahir 08 Agustus 2007 dan bercita-cita menjadi Kowad. Memiliki hobi berpetualangan, membaca, dan menggambar. Ia merupakan alumni MI Izzatul Muta’allimin, MTSN 2 Probolinggo, dan kini tercatat sebagai siswi di MAN 2 Probolinggo. Kabar tentangnya bisa diikuti lewat IG @czxq.__

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR