Selasa, 08 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Alur Berliku ~ Lusiana Syafitri

Pada suatu hari, di desa yang terpencil hiduplah seorang gadis yang bernama Lusi. Gadis dari keluarga yang sederhana. Mempunyai cita-cita yang begitu mulia. Sekarang ia baru meng-usaikan pendidikannya di bangku SMP. Lusi ingin melanjutkan pendidikan di sebuah pondok pesantren, tapi orang tuanya kurang setuju akan hal itu. Madrasah Aliyah Negeri 2 Probolinggo lah yang menjadi pilihan mereka. 

Kini dia merasa bingung harus bagaimana. Rasa resah selalu menghampirinya. Lusi tak tahu harus melakukan apa selain mengeluh dihadapan Tuhan. “Ya Allah aku harus bagaimana?”, dengan wajah penuh duka. Dipikirannya pun terlintas untuk mengerjakan sholat istikharah, ia berwudhu dan langsung menunaikannya. Berdoa kepada Allah SWT. “Ya Allah, mohon beri petunjuk kepada ku, aku harus ikut keinginan kedua orang tuaku atau memaksa keinginan ku sendiri?”.

Keesokan harinya dia ingin menyetujui permintaan kedua orang tuanya untuk sekolah yang mereka rekomendasikan. Sadar bahwa dia harus mengutamakan keinginan orang tuanya. Yakin bahwa pilihan orang tua lebih berguna bagi seorang anak demi masa depan. Sebab, ucapan kedua orang tua adalah do’a.

Lusi pun berlari menuju ke orang tuanya, memberitahukan bahwa dia sudah berubah pikiran dan ingin memenuhi keinginan orang tuanya. Mendengar hal itu orang tuanya terlihat sangat bahagia. Mengucapkan kata yang membuatnya menangis terharu, perkataan yang sungguh manis.

Orang tuanya bersemangat mengajaknya mendaftarkan sekolah. Tetapi sedihnya mereka tidak bisa mengantar Lusi, anaknya. Sibuk bekerja keras demi sesuap nasi dan keluarga. Kejadian duka yang menimpanya saat satu tahun yang lalu, membuatnya lebih semangat untuk menggapai cita cita. Awalnya dia sedih dan seperti tidak ada harapan lagi. Tetapi sang ayah pernah berpesan kepadanya. “Nak kamu harus semangat mencari ilmu, dan kejarlah cita citamu. Ubahlah nasib ibumu, bahagiakan lah dia nak, do’a ayah selalu menyertaimu.”

Baca juga:  Bekas Tombak & Pedang Jadi Saksi Keteguhan Membela Islam (Adinda Rizqiyatul Hasanah)

Mengingat ucapan ayah nya, dia bangkit. Sungguh, sebuah pengorbanan sang ayah begitu mulia. Di tengah perjalanan menuju sekolah, dia berdoa semoga pilihan kedua orang tuanya dapat membawa dia menuju kesuksesan.

===

Assalamualaikum wr. wb. Saya Lusiana Syafitri lahir pada tahun 2007. Berasal dari kampung sebelah, didepan basmalah, Karangpranti desanya. Motto hidup saya adalah, “Sebuah proses pasti penuh air mata, tapi diujung cerita ada cita-cita yang sedang menantinya.” Sekian Terimakasih.

===

Salwa Nurul Asyifa

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR