Minggu, 11 Okt 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Teman Tidak Harus Setara ~ Syafhira Khoirotun Zahra

Hai guys, kalian pasti tau kan kalo di Negara kita ini berlandaskan pada ideologi negara yakni Pancasila.

Kita semua juga pasti tau kan, apa aja sih yang mencerminkan perilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.

Nah disini, aku membuat sedikit cerita yang memiliki kaitan dengan pengamalan nilai-nilai Pancasila sila ke 2, yaitu tidak membeda-bedakan dalam hal pertemanan.

******

Di pagi hari, di sebuah sekolah dengan kondisi sejuk dan cerah, terdapat seorang gadis remaja yang berjalan santai dengan mata yang terfokus pada handphone di tangannya.

Hening menyambut langkahnya tatkala lorong yang ia lewati hanya terdapat dirinya sendiri. Iyalah sepi, lagian masih jam 6 udah berangkat saja.

Btw anggap saja jam masuk itu pukul 07.30

Sebut saja namanya Kaila, dia sedang berjalan menuju kelas tempat ia belajar di sekolah, btw dia kelas XI MIPA 3 yagesya.

Nama lengkapnya Kaila Biratama, seorang putri tunggal dari keluarga berada yang bermarga Biratama. Dengan sang Ayah yang merupakan pemilik perusahaan bernama BR Company, dan sang Buna yang memiliki butik terkenal di kalangan remaja dan dewasa.

Keluarganya seperti keluarga yang banyak diimpikan oleh semua anak di sekitarnya. Memiliki Ayah dan Buna yang sangat menyayanginya, serta kondisi ekonomi yang serba berkecukupan membuat ia merasa sangat bersyukur bisa memilikinya. Namun demikian, hal itu tak membuat ia bersikap sombong dan seenaknya.

Oh iya, Kaila emang manggil bundanya tuh dengan sebutan Buna yaa*

Perangainya baik, ia ramah dan berhati lembut, oleh karena itu ia memiliki banyak sekali teman yang sangat menghormati dan menyayanginya.

Teman-temannya pun selalu menjaganya saat berada di sekolah. Dengan keadaan keluarga yang cukup berpengaruh di sekolahnya karena menjadi salah satu dari donatur terbesar, tak membuatnya memilih-milih dalam konteks pertemanannya.

Baca juga:  Mata Yang Menatapmu Dengan Berbinar-binar ~ Moch. Rizky Maulana

Ia berteman tanpa memandang kasta, tapi dengan orang-orang yang memiliki hati dan sikap tulus terhadapnya. Dikelasnya, ada yang berasal dari keluarga kalangan atas dan menengah, tapi hal tersebut tak menjadi penghalang pertemanan mereka.

Teman sekelasnya juga saling menyayangi satu sama lain dan menganggap bahwa mereka semua adalah keluarga.
Tepatnya, keluarga kedua di lingkungan sekolah.

Tapi jika membahas tentang si bocil Kaila, mereka akan menjadi sosok kakak dan abang yang bertanggung jawab dan over protektif, yang ga boleh makan pedes lah, ga boleh minum es lah, dan lain-lain.

Oh iya! berbicara soal kakak dan abang, si bocil ini yang termuda dari semua teman-temannya. Umurnya masih menginjam 15 tahun, sedangkan teman-temannya berusia 16 dan 17 tahun.

Setelah sampai di Kelasnya, Kaila pun duduk dengan tenang di kursi tempat duduknya. Seraya menunggu teman-temannya datang, Kaila memainkan ponselnya untuk mengisi waktu kesendiriannya.

Tak berselang lama pun kelas mulai ramai karena kedatangan teman-temannya.

“Pagi Kai~” Sapa salah satu temannya dengan riang, sebut saja Rissa.

“Pagi juga,” Balas Kaila dengan senyuman andalannya.

Setelahnya mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang udah buka buku (beh rajin syekali ya epribade), ada yang ngobrol ringan istilahnya berghibah, ada yang sibuk dengan ponsel ditangan, ada yang nyontek tugas pula. Beh lengkap syekali.

Beberapa waktu berlalu bel masuk pun berbunyi.

Kriingg~

Yang tadinya kelas ramai pun seketika senyap kala guru matematika yang terkenal killer memasuki kelas.

“Pagi semuanya, kali ini kita akan mempelajari bab Matriks, buka buku halaman 56 bla-bla-bla…” ucap Pak botak… eh maksudnya Pak Budi.

* Skip bel istirahat

Baca juga:  4 Ciri Penulis Mengalami Writer’s Block

Kringg~

“Saya akhiri pembelajaran hari ini, selamat beristirahat.” Pak Budi pun keluar dari kelas.

“Huhh~ gila gue lama-lama,” Adu seorang siswa bernama Davin.

“Bener sih, soalnya diluar galaxy,” Sahut Gilang berlebihan.

“Udahlah, jangan alay lu pada,” Timpal si judes Giselle.

“Stop! mending ke kantin aja, laper nih,” bagai superhero, Rissa berucap lantang dan langsung menarik Kaila yang sedari sudah kelaparan menuju kantin. Membuat seluruh teman-temannya memandang mereka dan membulatkan matanya karena ditinggal.

“Weh udah weh, liat noh si Rissa udah kesel kayanya, ngantin aja kita.” Ucap Fadi menyadarkan mereka semua.

Mereka pun langsung menuju ke kantin mengejar Kaila dan Rissa.

Sesampainya di kantin mereka mengedarkan pandangan mencari keberadaan kedua temannya lalu memesan makanan dan duduk bersama untuk makan.

Saat mereka makan, ada banyak sekali orang yang memandang dengan tatapan iri. Celetukan dan bisik-bisik pun terdengar namun mereka abaikan dan tetap melanjutkan makan.

“Gila seh XI MIPA 3 kompak bener,” Ucap si A.

“Ga salah sih, kelas mereka juga terkenal dengan solidaritasnya kan?” Ucap si B menyahut.

“Woahh, Maaakk anakmu pengen pindah ke XI MIPA 3~” Pekikan siswa dan siswi pun turut meramaikan suasana.

Kedekatan dan kesolidan kelas mereka sudah terkenal keseluruh warga sekolah. Kelas yang terkenal kompak, pintar, dan patuh pada peraturan adalah sebutan yang di sematkan oleh warga sekolah untuk kelas IX MIPA 3.

(Woah tepuk tangan dulu dong)

*Skip pulsek

-Di parkiran

“Guys! gue pulang duluan ya, udah di jemput tuh,” seru Kaila berpamitan kepada teman-temannya.

“Yaudah iya, hati-hati ya Kai!” Ucap Dean pak ketu di kelasnya mewakili seluruh teman-temannya.

Baca juga:  Mental Health ~ Fariha Ramadani

“Siap,” Jawab Kaila dengan tangan yang berposisi hormat membuat teman-temannya terkekeh lucu.

Kegiatan itu pun tak luput dari semua orang yang ada di area parkir.

“Ommo-ommo, neomu kiyowo~” Histeris para siswi dengan tangan yang mengepal tak tahan dengan tingkah manis dari kelas IX MIPA 3 itu.

Tak berselang lama area parkir mulai sepi, karena semua sudah pulang kerumah masing-masing.

=====

Berteman itu, tak perlu melihat kastanya, tak perlu juga melihat suku dan agamanya. Tapi lihatlah bagaimana ketulusan sikap dan perilakunya.

Tak perlu membeda-bedakan warna kulit untuk berteman. Dalam pertemanan itu hanya perlu rasa saling menghargai, menghormati, membantu, dan selalu berada di sisi kita saat lelah menerpa, sedih menghampiri dan bahagia menjumpai.

Selalu ada dalam setiap kondisi yang kita miliki adalah konsep pertemanan yang sebenarnya.

=====

Yaudah, segitu dulu yaaa ceritanya.

=====

Assalamualaikum

Yaa! yeorobun, saya Syafhir.
Siganeul naeeo je jagpumeul ilgeojusyeoseo gamsahabnida.
Dangsini geugeoseul joahandamyeon naneun haengboghada.

Khamsahabnida!

Editor – Aisyah

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR