Di lembaran ini, aku masih bingung antara memilih lautan rindu atau senja yang kehilangan sinarnya.
Bingung ….
Banyak yang bertanya kemana seharusnya aku pergi, tapi aku hanya tersenyum melihat langit tanpa awan saat itu.
Kita sudah berakhir dan aku hampir gila malam itu.
Rindu?
Mungkin salah untuk mengatakan rindu sekarang dan aku tak bisa menjelaskanmu.
Akhir?
Aku ingin menghindari chapter ini meskipun sulit.
Memang sebentar, tapi … ah, sudahlah.
Pada akhirnya, asing adalah jalan keluar dari segala hal.
Mungkin ini salahku tapi kau memulai segalanya dan juga mengakhirinya.
Maaf ya ….
Untuk saat ini, aku tak bisa memaklumimu.
Kadang aku melamun memikirkan hal-hal yang tak mungkin menjadi kenangan bersamamu.
Tuan, berlabuhlah ke mana pun kau mau.
Aku telah mengantarmu sampai di sini.
Pulanglah jika kau ingin, dan aku ada di sini, di tempat di mana kau meninggalkanku.
Dulunya aku menyebutmu rumah, tapi sekarang rumahku hilang.
Kata hujan, jangan melihat apa yang jatuh, tapi lihat apa yang tumbuh.
Aku masih ada di sini, di tempat yang sama, menunggumu.
Kisah kita yang lalu sekarang menjadi cerita.
* Rekomendasi, cobalah mendengarkan lagu 10.000 Hours bagian reff saat membaca ini. *
=====
Dinda namanya, remaja berumur belasan yang bercita-cita tinggi berkuliah di universitas negeri. Duduk di bangku putih abu-abu tak membuatnya berhenti untuk terus berkarya, banyak karya yang telah ia tulis dalam coretannya, patah semangat bukanlah hal baru lagi baginya, tapi untuk menjadi yang terbaik dari yang terbaik.
Komentar Terbaru