Minggu, 11 Okt 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Firasat Sahabat ~ Panca Putri Aisyah Nurul Jannah

Perjalanan waktu begitu cepat, masa kecil yang dulu begitu indah telah berlalu dan menjadi kenangan yang kini hanya abu tersisa. Impianku lima tahun yang lalu untuk menjadi dewasa, kini telah menanti untuk diwujudkan. Semua terbang jauh pergi dan tersapu angin laju, meninggalkanku dalam kekosongan waktu yang begitu cepat berlalu.

Terdengar suara ketukan pelan di pintu depan, membuatku bangkit dari tempat tidur dan mengusap mata yang masih sedikit kabur. Ku intip ke luar untuk melihat siapa yang datang, tapi kegelapan malam membuat pemandangan dari jendela menjadi samar. Aku ragu untuk membuka pintu, karena tidak tahu siapa yang datang di malam hari seperti ini. Setelah satu menit berlalu tanpa suara panggilan lagi, aku yakin bahwa suara ketukan tadi bukanlah ilusi. Namun, aku masih enggan untuk membuka pintu dan memilih untuk menunggu hingga ada tanda yang jelas. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari luar, yang membuat suasana semakin hening dan menegangkan.

Matahari sudah terbit sejak alarm pertama berbunyi, tapi aku memilih untuk mengabaikannya. Baru saja aku menyadari bahwa ada kelas kuliah daring pagi ini saat jarum jam menunjukkan pukul 08.15. Tanpa banyak pikir, aku segera menyalakan laptop dan membuka link Zoom yang dikirim oleh dosen satu jam sebelumnya. Aku memilih untuk menyewa sebuah kamar kos agar lebih dekat dengan kampus, karena ini adalah keputusan pertamaku tidak tinggal di rumah yang diambil dengan penuh keberanian setelah berdiskusi dengan orangtua lima bulan yang lalu.

Saat kelas Zoom berlangsung, entah mengapa aku merasa tidak enak. Seolah-olah ada yang mengawasiku dari lorong-lorong rumah, dan aku merasa seperti ada yang mengintip lewat belakang jendela kamar. Terlintas bayangan hitam yang lewat dengan cepat, aku pastikan bahwa jendela tetap terkunci rapat. Namun, rasa tidak enak itu masih berbekas dalam benakku selama kelas berlangsung. Aku berusaha untuk tetap fokus pada kuliah, tapi sulit untuk menghilangkan perasaan aneh yang menghantui pikiranku.

Baca juga:  Hadiah Cinta dari Allah ~ Aprilia Anggraini Putri

Tak lama setelah ketukan pintu terdengar, kali ini terdengar lebih kencang dan diikuti oleh panggilan namaku yang sering terdengar di kampus. Aku mendengar seseorang memanggil, “Bubul!! Bul?! Bulan?!” sambil mengetuk pintu dengan cara yang tak lazim.

Suaranya langsung kuketahui. Tanpa berpikir panjang, aku membuka pintu depan yang terkunci dengan dua putaran. “Apa ini? Lain kali tolong beri tahu dulu, aku merasa seakan-akan punya utang padamu,” jawabku dengan sedikit kesal.

“Ye maaf, sekalian aja bangunin lu yang kebo, baru bangun kan haha,” ucap Lana tampak menyeringai.

Lana, teman akrabku di kampus, memanggilku dengan sebutan Nana. Dia adalah mahasiswa pintar tetapi senang bermalas-malasan. Ketika aku membuka pintu depan, aku mempersilakan Lana untuk masuk dan melanjutkan zoom kelas yang aku tinggalkan. Lana pasti malas untuk zoom meeting kelas karena dia pemalas dan suka melawak.

Lana benar-benar unik. Setelah zoom kelas berakhir, aku bertanya kepada Lana tujuannya datang ke sini. “Eh, tumbenan amat dah lu kesini pagi-pagi, apa ada hal penting mau lu sampein?” tanyaku.

Lana sejenak terdiam, matanya mengunci pandanganku. “Gw mau ngajak lu ke warteg Mpok Sumi dah sekarang, sekalian makan siang, gw bayar,” katanya dengan serius.

“Baik banget na, masuk surga lu traktir anak kos,” jawabku dengan senang hati, dan aku segera menerima tawarannya.

Aku menaiki motor Lana, dan kami menuju warung Mpok Sumi di ujung jalan. Tempat makan yang tidak terlalu ramai membuat suasana berbincang bersama Lana bisa sedikit nyaman. Aroma yang berbeda di setiap masakan menjadi khas tersendiri di warteg Mpok Sumi. Tanpa sungkan, aku memesan beberapa lauk, dan raut wajah Mpok Sumi terlihat senang.

Baca juga:  Keutamaan Bulan Muharram & Dalilnya ~ Muhammad Bagas Rizky Pratama

Sambil menunggu pesanan, aku mengajak Lana ke topik yang dia tinggalkan di rumah kos tadi. Lana bilang dia melihat dua orang pria yang mengetuk pintu kosku kemarin malam. Tubuh mereka besar kekar mirip preman di film-film, dan tingkah mereka aneh. Mereka sempat berniat untuk masuk, namun mereka menyembunyikan diri ketika Lana hendak lewat depan rumah kosku. Aku sempat kaget mendengar ceritanya, tetapi tetap mengambilnya santai dan menganggap bahwa Lana salah paham atau salah melihat karena sudah terlalu larut malam.

Setelah makan di warteg Mpok Sumi, Lana mengantarkanku ke depan kos, tetapi dia tidak langsung pulang. “Bul, gw nginep sini ya.” katanya dadakan.

Aku tentu saja mempersilakan karena esok tidak ada kelas kuliah. Aku duduk dan menonton TV, sedangkan Lana baru saja sholat magrib. Di persimpangan malam, kantuk sudah tidak tertahankan lagi, jadi aku meminta Lana untuk mematikan TV. Aku mengajak Lana tidur, tetapi dia menolak karena bilang belum mengantuk. Aku menarik kembali selimut untuk menghangatkan tubuhku karena cuaca yang cukup dingin.

Keesokan harinya, Lana sudah tertidur duduk di sofa, jadi aku membangunkannya dan menyuruhnya cepat-cepat pindah ke kamar.
Siangnya, Lana pamit pulang setelah makan lagi di warteg Mpok Sumi yang diteraktirkannya. “Gua pamit pulang

Sebelum benar-benar pulang, Lana kembali memberitahuku bahwa semalam ia memastikan tidak ada yang aneh di kosanku. Namun, aku meresponnya dengan santai dan mengatakan bahwa mungkin itu hanya kekhawatiran yang terlalu berlebihan saja. Lana kemudian pulang dengan motor Scoopy-nya dan memintaku untuk menelepon jika ada apa-apa.

Ketika aku kembali ke kosan, meskipun terkadang merasa kesepian, aku tidak merasa takut untuk sendirian di sana. Namun, sekitar jam 5 sore ketika aku keluar untuk membeli kebutuhan pokok yang sudah tipis, perasaan yang tidak biasa muncul dalam pikiranku. Lana menelponku untuk menanyakan keberadaanku saat itu.

Baca juga:  Negara Beragama Yang Beragam ~ Lesti Abelia

Ketika aku berjalan pulang, tiba-tiba seseorang menutup mulutku dari belakang dan membawa aku pergi. Aku merasa ditangkap, tangan dan kakiku diikat erat dan aku dimasukkan ke dalam mobil hitam. Seseorang merokok di dalam mobil, membuat aku kesulitan bernafas. Aku tidak bisa bicara karena mulutku dibalut perban, hanya bisa berusaha meminta mereka untuk melepaskan ikatan.

Sesampainya di markas mereka, aku dan beberapa perempuan seumuran denganku dikumpulkan di ruangan yang kumuh dan menakutkan. Semua orang terlihat ketakutan dan sedih. Aku masih sempat menyelipkan handphone ke dalam saku celanaku dan berhasil menelepon Lana tanpa suara, hanya bergutik untuk memberitahukannya tentang keadaanku.

Setelah satu jam, para penculik hendak mengangkut kami menggunakan truk yang tertutup terpal. Namun, Lana dan tiga orang polisi datang dan berhasil menangkap para penculik serta membebaskan kami. Saat kembali ke kosan, Lana terus mengkhawatirkan keadaanku. Aku merasa sangat berhutang padanya dan menyadari pentingnya untuk tidak selalu lengah dan mengambil santai terhadap kesendirian di tempat yang asing.

=====

Panca Putri Aisyah Nurul Jannah. Lahir 08 Agustus 2007 dan bercita-cita menjadi Kowad. Memiliki hobi berpetualangan, membaca, dan menggambar. Ia merupakan alumni MI Izzatul Muta’allimin, MTSN 2 Probolinggo, dan kini tercatat sebagai siswi di MAN 2 Probolinggo. Kabar tentangnya bisa diikuti lewat IG @czxq.__

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR