Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Nada Harmonika Untuk Bunda ~ Aprilia Anggraini Putri

Matahari pagi baru saja muncul dari ufuk timur, memberikan harapan baru bagi semua makhluk yang hidup di bumi. Namun di sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran kota, suasana tak secerah pagi yang indah itu. Ini kisah tentang seorang anak bernama Dio, ia hidup bersama ibunya dan kakaknya. Mereka hidup dalam keadaan yang sederhana dan mencoba bertahan hidup dengan penghasilan yang minim.

Dio, seorang anak kecil yang masih duduk di bangku kelas 6 Sekolah Dasar, selalu bermimpi untuk mengenakan seragam putih biru yang membuatnya sangat bersemangat. Setiap hari, Dio selalu berusaha untuk belajar dengan tekun di sekolah. Dia tahu bahwa dengan belajar dengan giat, dia akan bisa mencapai cita-citanya tersebut.

Suatu pagi, Dio bangun dengan merasa tidak enak badan. Kepalanya terasa pusing dan sakit. Dia memanggil ibunya dengan suara keras, “Ibu, Ibu, Ibu!”

“Tunggu sebentar, Dio. Ibu sedang mandi,” jawab ibunya dari kamar mandi.

Beberapa menit kemudian, ibunya keluar dari kamar mandi dan bertanya kepada Dio apa yang terjadi.

“Ibu, kepala Dio sakit sekali,” keluh Dio.

Ibunya memeriksa suhu tubuh Dio dan memberinya minum obat penurun demam. Namun, Dio masih merasa tidak enak badan dan ingin tinggal di rumah.

“Ibu, Dio tidak ingin pergi ke sekolah hari ini. Bolehkah Dio tinggal di rumah?” tanyanya dengan wajah pucat.

Ibu Dio menghela nafas panjang dan berkata dengan suara sedikit tertekan, “Dio, ibu mengerti kalau kamu tidak enak badan. Tapi, ibu sudah susah payah mencari uang untuk kebutuhan kita sehari-hari. Kita butuh uang untuk makan dan membayar tagihan. Kamu harus pergi ke sekolah hari ini.”

Baca juga:  Cinta Bersemi Dalam Nahwu & Tajwid ~ Amelia Hasanah

Dio merasa sedih dan kecewa, namun dia mengerti bahwa ibunya memang harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dia berusaha untuk memulihkan dirinya dan bersiap-siap pergi ke sekolah.

Di sekolah, Dio adalah anak yang aktif dan sangat kreatif. Ia sangat menyukai seni budaya dan selalu membawa harmonika ke mana pun ia pergi. Tak jarang, gurunya meminta Dio untuk memainkan harmonikanya di depan murid-murid yang lain.

Suatu hari, ketika Dio diminta memainkan harmonikanya di depan teman-temannya, ia membawakan dua lagu. Lagu pertama dimainkan dengan baik, dan semua orang tepuk tangan. Namun, ketika Dio memainkan lagu kedua yang berjudul “Bunda”, gurunya bertanya, “Dio, kenapa kamu selalu membawakan lagu ‘Bunda’?”

Dio tersenyum dan menjawab, “Karena Dio sayang Bunda…sayang banget! Andai bumi ini pacar Dio, pasti Bumi ini cemburu sama Cintanya Dio ke Ibu heheeee” Semua orang serempak bertepuk tangan. Ungkapan cinta Dio pada ibunya sangat mengharukan dan membuat teman-temannya semakin bersorak.

Namun, tiba-tiba Dio berteriak, “aaaaa kepalaku sakit….aaaa”

Semua siswa panik dan bertanya-tanya, sementara guru Dio berusaha menelpon ibu Dio untuk memberitahu bahwa Dio merasa sakit. Namun, Dio mengambil hp ibu guru dan berkata, “Jangan ibu, ibu Dio sibuk bekerja nanti Dio merepotkan Ibu. Dio yakin ibu tak mau diganggu kasihan ibu.”

Seringkali, Dio mengadu rasa sakitnya pada ibunya, namun tak pernah mendapat respon. Ia selalu berkata, “Mungkin ibu sibuk hari ini,” dan seterusnya.

Pada suatu hari, kakak Dio menemukan Dio jatuh di kamar mandi sambil memegang kepalanya dan matanya melotot. Dio dilarikan ke rumah sakit, dan dokter memutuskan untuk mengoperasi kepalanya karena terkena kanker yang sudah menjalar ke matanya dan nantinya akan berakibat fatal.

Baca juga:  Untukmu yang Takkan pernah tergantikan ~ Naila UciTri Damayanti

Setelah 3 minggu operasi, Dio masih belum bisa bersekolah dan selalu menanyakan ibunya yang tidak pernah datang menjenguknya kepada kakaknya. “Kakak, kenapa ibu tidak datang? Mungkin ibu sibuk ya,” lirihn Dio mencoba tersenyum.

“Sudahlah Dek, kakak janji nanti ibu pasti nemanin Dio.” Kaka Dio menncoba menghibur.

“Kakak, kenapa Dio tidak bisa melihat kakak? Nanti kalau ibu datang, Dio tidak bisa melihat wajah ibu dong? Padahal Dio janji bakal sembuh kalau temenin ibu.” Dio terdengar panik dengan keadaannya.

Sejenak tercipta keheningan antara Dio dan sang kakak, namun tiba-tiba Dio berucap, “Kak, denger nggak? Ayah manggil Dio kayaknya.”

“Ayah kesepian ya kak, Dio mau nemenin ayah ya kak. Kalau ibu datang, bilang sama ibu Dio sayang banget sama ibu…” Dio menyambung kalimatnya.

“Dio…Jangan tinggalin kakak. Kakak janji akan bawa ibu kesini Diooo,” ucapnya dengan penuh harap.

Namun sayangnya, suara imut mungil itu tak terdengar lagi. Wajah Dio yang lugu tak bisa dipandang lagi, dan permainan harmonikanya dengan lagu Bunda tak terdengar lagi setelah kepergian Dio.

Ibu yang tak pernah memenuhi panggilan Dio merasa menyesal. “Dio maafkan ibu Dio…,Ibu banyak dosa sama Dio. Ibu juga sayang banget sama Dio. Bangun nak… Bangun!” ucapnya sambil menangis di tengah prosesi pengurusan jenazah Dio.

وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ
Terjemahnya:
Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.598) (Wasiat Kami,) “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.” Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.(QS. Luqman : 14)

Baca juga:  Sketsa (Lailil Magfiroh)

=====

Aprilia Anggraini Putri lahir di Bangkalan Tanggal 16 April 2002. Jenjang pendidikan sekolah dasar MI Salafiyah, MTS Salafiyah, dan sekarang melanjutkan ke man 2 Probolinggo jurusan IPA.
Selain menjadi pelajar,ia mengabdi di TPQ Sukomulyo,yang dikenal dengan Rumah ABATA. Pada 2015, ia berhasil menjuarai Kompetisi Sains Madrasah (KSM).

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR