Langkah kakinya terasa sangat cepat, bahkan ketika aku mengejarnya rasanya begitu sulit. Ketika aku mencoba memanggilnya sekalipun, dia seakan tak mendengar suaraku. Aku mulai kelelahan, otot kakiku mulai melemas. Dan akhirnya yang kulakukan adalah terduduk lemas di pinggir bibir pantai.
Diiringi suara deburan ombak pantai, aku mendongak. Menatap lurus objek yang semakin jauh dari pandangan mata. Waktu terus berjalan. Detik demi detik, hingga sang objek utama hilang dalam pandangan.
Aku menunduk, mencoba menetralisir sesak yang terus menyeruak ke luar hingga menimbulkan rasa sakit. Dan tanpa permisi, bulir-bulir air mata mulai menetes mengenai pasir pantai, diiringi isak tangisan yang mulai terdengar. Aku menutup mulutku dengan tangan berharap meredam isak tangisan, yang justru menimbulkan rasa sesak luar biasa.
Cukup lama aku menangis. Hingga rasa lega itu muncul. Aku mulai menghapus jejak-jejak air mata yang tadi mengalir di pipiku. Ku alihkan pandanganku ke samping, tepat dengan pemandangan senja yang sangat indah.
Sudut bibirku terangkat. Aku terus menikmati indahnya senja di hari itu. Hingga aku menutup mata ketika sapuan angin menyapa tubuhku. Aku membuka mataku secara perlahan hingga mataku terbuka sempurna. Setelah itu yang ku lakukan menghirup napas sedalam-dalamnya. Aku mencoba menenangkan tubuhku. Ku hirup dan keluarkan nafasku berkali-kali hingga tubuhku tenang.
Cukup lama hingga akhirnya aku berhasil. Degup jantungku sudah tidak menggila, dan rasa sesak itu seakan sirna begitu saja. Lagi dan lagi kalimat itu seolah berputar bak melodi di pikiranku. “Belajar buat ga ngasih harapan lebih ke manusia. Kita ga akan pernah tau kapan mereka akan datang dan pergi begitu saja.” Singkat namun bermakna bagiku. Kalimat yang aku dapatkan dari teman masa kecilku yang ternyata juga pergi meninggalkan diriku.
Lama tenggelam dalam kebisingan pikiran, yang membuat aku tak sadar rintik hujan mulai turun membasahi bumi pertiwi. Bukannya beranjak dari tempat, aku terdiam. Membiarkan ragaku basah kuyup terkena tetes demi tetes Sang Varsha.
Tubuhku mulai menggigil, pertanda aku harus beranjak pergi dari tempat ini. Aku berusaha menguatkan hati menerima kenyataan pahit yang baru saja aku terima. Mungkin akan sulit, tapi mau tidak mau aku harus bisa melalui semua ini. Bukankah sesuatu yang dipaksa dan dilakukan secara terpaksa akan terbiasa? Rasa tidak percaya atas semua hal yang terjadi hari ini memang ada. Hanya saja, sekuat apapun aku menyangkal semua fakta ini akan kalah dengan realita yang ada.
Aku mulai beranjak dari tempat. Kaki ku berjalan ke luar dari area pantai. Untuk terakhir kalinya, aku menolehkan kepalaku ke belakang. Memandangi tempat yang menjadi saksi bisu akan kejadian tadi. “Aku, kamu, pantai, senja dan hujan.” Kejadian yang tak akan pernah aku lupakan. Kejadian yang mengajarkan aku banyak hal tentang kepercayaan. Dan kejadian ini akan selalu membekas di ingatanku. Entah sampai kapan, mungkin selamanya?
——–
Laelatul Luqiyana Adawiyah bisa dipanggil El, siswi MAN 2 Probolinggo. Penyuka semua tentang musik.
Btw untuk merangkai kata-kata baru saya tekuni di MA ini. Masi sangat pemula jadi mohon maaf bila ada penggunaan kata yang kurang pas ya teman-teman.
Sekian dan kalian bisa temui saya di :
ig : lqynaa_/ luqiyanaa_
_____
Editor salwa
Komentar Terbaru