Hujan masih saja mengguyur dengan deras, membuatku merenung dalam kesepian. Aku membiarkan diriku terhanyut dalam lamunan, memikirkan apa yang telah hilang dan mencari jawaban yang sulit aku temukan. Tanganku tanpa sadar mengadah, seolah memohon sesuatu yang tak pasti.
Namun, yang aku dapatkan hanyalah perasaan kosong. Seperti membuat gulai tanpa garam, segala usahaku terasa hambar dan tak berarti. Aku merasa semangatku mulai pudar dan pandanganku teralihkan dari hal-hal yang seharusnya benar.
Rasa sedih yang tak bisa aku jelaskan semakin menghampiriku. Aku merasa kehilangan iman yang dulu begitu kuat. Dan saat itulah aku menyadari, bahwa aku telah tersesat dan tidak tahu arah yang harus aku tuju.
Ketika aku merasa putus asa, aku mengambil gadgetku dan mencari kiasan kata yang mampu membawaku ke arah yang benar. Dan akhirnya, aku menemukan kata-kata yang begitu menyentuh hatiku.
“Sholatlah walau nikmat ibadahmu itu sudah tak lagi ada. Tadarruslah bahkan jika kau sudah mati rasa. Sebab kita tak pernah tau rakaat mana Allah mengasihimu, dan kita tak pernah tahu ayat mana yang mampu melembutkan.”
Kata-kata tersebut membuatku tersadar bahwa yang seharusnya aku cari bukanlah jalan, melainkan arah dan tujuan yang benar. Aku harus menemukan arah yang tepat agar dapat sampai pada tujuan yang diinginkan. Karena jalan mungkin sudah dibuat, tetapi arah dan tujuan harus aku cari sendiri.
Lelahku tidak akan abadi jika aku terus mencari jalan tanpa arah dan tujuan yang jelas. Aku harus segera menemukan arah dan tujuan yang benar, sehingga tidak perlu repot mencari jalan yang sesungguhnya akan membawaku semakin tersasar.
====
Panca Putri Aisyah Nurul Jannah. Lahir 08 Agustus 2007 dan bercita-cita menjadi Kowad. Memiliki hobi berpetualangan, membaca, dan menggambar. Ia merupakan alumni MI Izzatul Muta’allimin, MTSN 2 Probolinggo, dan kini tercatat sebagai siswi di MAN 2 Probolinggo. Kabar tentangnya bisa diikuti lewat IG @czxq.__
Komentar Terbaru