Angkasa kini dipenuhi oleh cahaya senja yang indah dan mempesona. Dingin yang memeluk sore ini sama menusuk seperti angin malam yang menerpa.
Tapi seorang pemuda tak menghiraukan rasa dingin ini, ia tak bisa lagi merasakan apa-apa. Tubuhnya telah mati rasa, saking seringnya ia terluka dan kecewa.
Pekat irisnya menatap lurus ke depan, berusaha menjaga agar bias jingga sore itu tidak hilang dari pandangan.
Pandangannya merekam semua kilasan indah yang diberikan oleh alam, tatapannya meliar mencari objek indah yang datang begitu singkat tapi berkesan.
Tatapan itu berubah menajam, sementara kedua tangannya mengepal erat di sisi badan. Sedetik kemudian, ia bisa merasakan pandangannya sedikit memburam, dipenuhi oleh air mata yang siap mendesak keluar.
Netra pekat itu mengambil jeda untuk memejam, membiarkan air mata itu mengalir sehingga menciptakan anak sungai dan membiarkan dingin sore itu menyapu relungnya yang kini telah berlubang.
Dia adalah seorang pemuda yang begitu sabar, tapi kini semuanya ia ungkapkan lewat tangisan yang memilukan.
Pada akhirnya ia sadar, bahwa kini ia harus bangkit dan melangkah lebar meninggalkan kenangan kelam yang membekas dalam ingatan.
__
Haii…
Saya Syafhir, suka membaca dan mendengarkan musik:)
Merangkai kata adalah hal yang saat ini sangat aku suka.
Mempunyai motto “Kalau belum mencoba jangan bilang tidak bisa”.
Terimakasih karena telah meluangkan waktu sejenak untuk membaca hihi..
Sampai jumpa di karya saya yang berikutnya:)
Komentar Terbaru