2022, punya ceritanya sendiri. Menghadirkan sejarah dan kenangan yang tak terlupakan. Di 2023, usia telah menginjak 21, masa sekolah akan usai, tanda tanya akan masa depan pun semakin tak bisa diterka, dan cinta di hati pun mulai terasa.
Tak terbayang, di usia 21 masih banyak mimpi yang belum tercapai, dan harapan pun masih terajut. Perkara usia sebenarnya bukan masalah, sebab usia hanya angka. Usia yang sebenarnya tergantung seberapa banyak amal baik yang kita perbuat, karena itu nanti yang akan jadi modal di masa depan.
Kuperhatikan teman-teman mulai sibuk dengan rencana pendidikan di jenjang yang lebih tinggi, aku pun harus mempersiapkan langkahku berikutnya. Aku telah berembuk dengan orang tua, hanya saja sepertinya rencanaku tak bisa sesuai dengan kenyataan yang akan terjadi.
Kecewa, tentu manusiawi. Hanya saja, keyakinan akan hikmah terbaik selalu kutanamkan dalam hati. Kekhawatiran akan salah memilih langkah, membuatku banyak belajar tentang pilihan.
“Harus semangatlah, masa depan tuh nggak ada yang tahu pasti. Masa depan tuh masih misteri, jadi tak perlu terlalu dikhawatirkan. Rangkai mimpi, bukan memaksakan untuk mimpi. Biar bagaimana pun, kita cuma manusia yang hanya bisa berencana. Keputusan akhir tuh tetap ada pada kuasa Sang Maha Pencipta, karena itu jangan ambil tugasnya Allah sebagai pengambil keputusan dan pemberi kepastian akhir.” Nasehat yang kukutip dari sebuah percakapan di aplikasi chating.
Ketika kita telah berani melangkah, kita pun harus siap menerima setiap konsekuensinya. Setiap hal yang telah kita peroleh, harus pandai kita syukuri, karena belum tentu apa yang kita miliki bisa dinikmati oleh orang lain.
Sering kali kita melihat dan menilai hidup orang lain sangat indah, namun kita terkadang tak peduli bahwa pencapaian tersebut didahului perjuangan yang tak mudah. Hal ini tercermin dari sebuah kalimat bijak, “Kebannyakan orang hanya melihat puncaknya dari sebuah kesuksesan yang anda capai. Tanpa melihat jalan terjal untuk sampai menuju kesana, tanpa tau seberapa banyak tenaga dan pikiran yang terkuras untuk bisa tetap semangat”.
Itulah kehidupan, banyak warna-warni yang menghiasinya.
Ada waktu dimana aku merasa hidup ini indah banget, ada pula masa aku merasa hidup ini gak adil, ada fase aku ingin menyerah, bahkan ada masa aku justru bersyukur karena tak cepat putus asa. Satu hal yang pasti, ketika rasa kecewa membuat diri tersiksa, menangis mungkin bisa sedikit meringankan beban. Menangis tak berarti lemah, karena terkadang kita lupa bahwa air mata juga bagian dari diri.
Berbicara soal kecewa, jatuh cinta menjadi rasa yang begitu dekat dengannya. Cinta mungkin memberikan sejuta rasa bahagia, namun di sisi lain tak jarang menghadirkan luka mendalam. Ini membuatku teringat dengan sebuah postingan di Instagram yang mengatakan, “Disakiti sama orang yang pernah kita jaga hatinya is another level of pain”. Ya, walaupun kita sama-sama tau, pada akhirnya kita manusia dikecewakan dan mengecewakan. hanya saja, gak nyangka air mata dan rasa sakit ini ada karena kamu.
Ini bukan masalah ekspektasiku yang terlalu tinggi, tetapi memang rasa sakitnya begitu mengiris hati karena kamu pelakunya. Ada rasa bersalah juga sih, karena perasaan ini tak bisa diungkapkan. Ya udahlah, ini hanya sebuah rasa cinta yang belum jelas maunya apa.
Ngomong-ngomong masalah jatuh cinta, sering gak sih terbersit akan kepantasan diri kita sendiri. Apakah aku udah pantas? Aku yang seperti ini apakah pantas dengan dia? Menurutku, bagi seorang wanita memilih laki laki bagaikan memilih surga dan neraka, sebabp pada dasarnya seorang laki-laki akan menjadi pemimpin yang akan membawa keluarganya kehadapan Allah. Sementara bagi laki-laki, memilih wanita bagaikan memilih sekolah yang baik bagi masa depan keturunannya, sebab seorang wanita akan menjadi madrasah pertama bagi seorang anak.
=====
Aprilia Anggraini Putri lahir di Bangkalan Tanggal 16 April 2002. Jenjang pendidikan sekolah dasar MI Salafiyah, MTS Salafiyah, dan sekarang melanjutkan ke man 2 Probolinggo jurusan IPA.
Selain menjadi pelajar,ia mengabdi di TPQ Sukomulyo,yang dikenal dengan Rumah ABATA. Pada 2015, ia berhasil menjuarai Kompetisi Sains Madrasah (KSM).
Komentar Terbaru