Sekali lagi diriku terjatuh, terhempas kedalam jurang yang penuh kekecewaan, namun air mata tak lagi menjadi luapan emosi. Sudah cukup air mata yang keluar hanya karena sebab yang sama yaitu kekecewaan.
Semua orang akan melewatinya, mulai dari ruangan yang terang hingga ruangan yang gelap, semuanya tergantung dengan seberapa banyak porsinya. Yang berjuang akan terbebas sedangkan yang menyerah tidak akan pernah bisa keluar dari jurang kegelapan.
Hanya diam tak bergerak, menatap kosong dengan pikiran yang terbang berkelana hingga suara itu terdengar, seperti bisikan angin yang entah dari mana suara itu berasal, “Kamu tau? Kamu itu sebuah berlian, kamu berharga lebih dari seribu alasan, kamu hebat, kamu sudah berjuang sampai sejauh ini. Kamu berhak bahagia, dan bahagia itu kamu sendirilah yang harus mendesainnya.
Bumantara itu terlihat indah, dengan ribuan bintang yang bersinar terang. Sarayu saling bersahutan, Menemani sosok rapuh sarat akan kekecewaan yang sedang merenung. Atmanya ikut pergi bersamaan dengan anila, meninggalkan raga kosong sendirian.
Hembusan berat terdengar sebelum diri ini mendongak menatap dewi malam yang nampak bersinar paling terang. Namun sayang, sang dewi malam sendiri tidak menghasilkan sinar, melainkan hanya pantulan sang Surya yang yang sangat menyilaukan.
Mata yang semula terpejam dalam mengharap ketenangan itu kembali terbuka, menampakkan semangat untuk berjuang yang kian bertambah, mencoba mengikhlaskan semua hal yang telah dirasa.
___
BIONARASI
Haii…
Saya Syafhir, suka membaca dan mendengarkan musik:)
Merangkai kata adalah hal yang saat ini sangat aku suka.
Mempunyai motto “Kalau belum mencoba jangan bilang tidak bisa”.
Terimakasih karena telah meluangkan waktu sejenak untuk membaca hihi..
Sampai jumpa di karya saya yang berikutnya:)
___
Editor : Salwa Nurul Asyifa
Komentar Terbaru