Senin, 07 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Tak Semuanya Harus Sejalan ~ Aisyah

Namanya fikri, teman-temannya kerap memanggilnya dengan sebutan “Krik-krik jangkrik”. Dipanggil dengan sebutan seperti itu sudah biasa baginya, mungkin itu hanyalah candaan belaka.
Tapi apakah kalian pernah mendengar bahwa nama ialah doa? suatu hari disekolah sedang membahas tentang cita-cita dan profesi. Mulanya memang berjalan lancar.
“Kalo yang lain mah cita-citanya pada hampir sama semua, kalo ga tentara, pilot, polisi, dokter ya pasti guru.” Sahutan itu bersumber dari Fikri, yang diucapkan Fikri pada saat ini benar adanya. Rata-rata temannya bercita-cita sesuai yang diuacapkan Fikri.
“Lah apa salahnya? Daripada kamu krik, gede gede ya jadi tukang jangkrik kaya bapakmu.” Giska menyahuti ucapan Fikri tak terima. Mungkin jika dilihat-lihat ucapan Fikri tadi seperti meremehkan dan tak menghargai kebebasan seseorang untuk bercita-cita, padahal setiap orang tak memiki hak untuk menghalau keinginan seseorang bercita-cita, sekalipun cita-cita itu sama dengan yang lain.
Mendengar profesi ayahnya dibawa-bawa, Fikri kesal, “Lah? Ngapain bawa bapak! Daritadi bahas cita cita bukan bahas bapak,” ucap Fikri tak terima. Memang benar adanya apa yang dikatakan oleh Giska, ayah Fikri merupakan seseorang yang bekerja saampingan mencari jangkrik untuk dijual.
“Ya biarin, gasuka?” Fikri yang semakin tak senang dengan perilaku Giska itu semakin geram, rasanya ia ingin menghajar Giska. Namun dalam hatinya ia masih sadar bahwa yang ada dihadapannya ialah perempuan, sama seperti ibunya.
“Makanya krik, bilangin ke ortumu kalo ngasi nama tuh yang bagusan dikit, nama kan doa, nah kamu dikasi nama Fikri terus dipanggil krik jangkrik, kan jadi tukang jangkrik beneran deh.” Ucapan Deni tersebut memang terdengar santai, bahkan Deni menepuk santai Pundak Fikri.
Mendapat perlakuan seperti itu, Fikri memilih untuk meninggalkan kelasnya. Teman-temannya yang berada dikelas hanya menjadi saksi atas perdebatan yang baru saja terjadi.
Fikri duduk dikursi bawah pohon, pikirannya tertuju pada ucapan Deni yang mengatakan bahwa nama ialah do’a, “Apa ini ya penyebab bapak kerja sampingan cari jangkrik?” ucapnya sambal menatap birunya langit sambil menikmati angin sepoi-sepoi.
“Fikri, ngapain kamu disitu, Nak?” Seorang guru bernama bu Ani menghampiri Fikri.
“Gapapa bu, nyari angin.”
“Bu, mau nanya boleh?” Fikri menatap ke arah bu Ani yang kemudian dibalas dengan anggukan.
“Bu, nama kan doa ya, nah itu beneran kan, Bu?”
“Menurut ibu iya. Orang tua memberi nama tentunya memiliki tujuan, emang kenapa?”
“Berarti selama ini nama saya jelek ya bu, soalnya ngehasilin dampak buruk.”
Bu Ani mengeriyit bingung, “Loh, Emang kamu kenapa?”
“Nama saya kan Fikri bu, dipanggil krik jangkrik sama orang-orang, dan itu sesuai sama kerjaan sampingan bapak saya, jadi tukang cari jangkrik,” tutur Fikri polos.
Bu Ani diam. Dia juga bingung ingin memberi tanggapan apa, perihal kerjaan tukang cari jangkrik itu memang benar. Namun, teman-teman Fikri tak tahu betul, ayah Fikri tak hanya tukang mencari jangkrik, tapi juga pemilik ternak jangkrik yang lumayan besar.
=====
Kenalin namaku Aisss, sebenarnya Aisyah sih heheh, tapi bebas deh kalian mau panggil aku apa aja asal jangan aneh yaa. Oh iya, aku berasal dari kota yang dikenal sebagai sunrise of Java. Yaps, Banyuwangi. Aku lahir pada 18 Juni 2007.
Aku pernah mengenyam pendidikan di SDN 1 Bengkak dan MTsN 1 Banyuwangi. Sekarang aku juga udah resmi jadi bagian keluarga MAN 2 Probolinggo. Aku suka menulis sejak kelas 8, awalnya cuma gabut gara-gara pandemi, eh malah keterusan terus jadi hobi deh. Terimakasih yaa udah baca karya aku, dan semoga kalian suka.

Baca juga:  Selamat datang di Perpustakaan MAN 2 Probolinggo!

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR