Minggu, 06 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Ungkapan Tak Terbalas ~ Salwa Nurul Asyifa

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Terima kasih atas jawaban dari segala doa-doa kami yang penuh harapan. Segala pinta akan Engkau ijabah, segala harap akan diberi jawaban bersama manisnya buah penantian. Tak pernah lelah mendengar rintihan kami disepertiga malam penuh bimbang. Engkau ingin kami meminta hanya kepada-Mu. Setiap keheningan, Engkau rentangkan sayap-Mu dan kami diam dalam kekhusyukan. Betapa hinanya kami tanpa-Mu. Apakah hamba ini murni hanya untuk mendapatkan keridhaan-Mu?

Hari Jumat antara waktu ba’da ashar hingga detik-detik adzan dikumandangkan. Merupakan waktu mustajab untuk segala harap. Di bawah langit, matahari bersinar dengan elegan, cahaya senja menyapa seorang gadis berjilbab panjang. Bukan anak kecil lagi, melainkan wanita yang telah berusia remaja. Cepat atau lambat ia harus menerima segala tanggung jawab. Entah berapa kali ia melewatkan waktunya dengan sia-sia. Karena kemalasan yang memeluk erat dirinya. Hingga, bak secercah cahaya, menghampiri kegelapan yang nyata, dan ia terpanggil hatinya.

Ia gadis remaja, yang memiliki kemauan. Seorang wanita yang memiliki impian melambung tinggi, setinggi bulan bintang dimalam yang pekat nan hitam. Berjuang begitu gigih, dan penuh dengan ambisi. Perjuangan didampingi oleh orang-orang tersayang. Berharap Sang Pencipta mengeksekusi doanya dengan cepat. Tetapi, laksana pungguk merindukan indahnya bulan, dengan doa yang tak kunjung terkabulkan. Tiba pada suatu penantian yang tak mengasyikkan, bagi anak gadis berjilbab panjang.

Segala doa yang terucap tak mampu menembus langit harap. Ujian datang silih berganti, membuat jalan kehidupan dengan kegelapan. Pandangannya, semakin ia berdoa, maka semakin jauh doa itu pergi darinya. Hari demi hari ia jalani dengan tabah. Mengikat erat keyakinan untuk tetap berdiri tegak pada takbirnya. Mencoba mengusap mata yang hampir selalu basah. Kemungkinan suatu saat, doa itu mendarat pada dermaga penantian.

Baca juga:  Khaulah binti Tsalabah: Peran Nyata Wanita Dalam Perjuangan Islam (Laelatul Luqiyana Adawiyah)

Hari demi hari, bulan demi bulan, hingga tahun berganti. Tak ada tanda-tanda jawaban yang ia nanti. Ia semakin kuat, semakin cerdas menyikapi keadaan, semakin tabah menunggu keajaiban. Ia tersadar, lebih baik mengulur sajadah daripada berkeluh kesah. Berusaha tegar, setegar karang dengan ombak kehidupan. Ia meneteskan air mata di pipinya, berjuang tanpa sosok orang tua disisinya. Orang tua yang berada di ribuan kilometer dari tempatnya. Demi meraih impian besar, ia rela berpisah dari mereka.


Bionarasi~

Assalamualaikum.

Salwa Nurul Asyifa lahir pada tahun 2007. Sekarang tengah menempuh pendidikan di MAN 2 Probolinggo. Menulis merupakan hobi baru baginya. “Beranilah untuk bermimpi dan beranikan dirimu untuk mewujudkan semua impianmu, karena impian tidak akan tercapai tanpa keberanian.”

Wassalamu’alaikum.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR