Sabtu, 5 November 2022. Begitu cepat berlalu, tersisa empat bulan lagi. Masa sekolah akan usai. Seragam putih abu-abu akan menjadi seragam terakhir, menorehkan kenangan terindah. Ya, masa putih abu-abu menjadikan kita lebih dewasa, mampu berfikir kritis, dan tidak semaunya sendiri. Sayangnya, kebersamaan itu berkurang dua tahun karena covid. Konsekuensinya, kini semuanya dihadapkan pada persimpangan. Hendak memilih kuliah, kerja, atau berumah tangga. Namun sepertinya teman-temanku lebih banyak yang ingin melanjutkan kuliah.
Ada yang hanya kuliah sekedar kuliah saja, padahal gak nyaman dengan jurusannya, ada pula yang kuliah karena keinginan orang tuanya, dan ada juga yang mengerti tujuan hidupnya harus kemana dan memotifasinya untuk belajar dengan giat hingga berhasil masuk kampus impiannya sesuai bakat minatnya.
Sebagian teman dari jurusan lain, memilih untuk bekerja. Saat ditanya kerja apaan? Mereka menjawab, “Toko, Alfamart, Indomaret, dan pekerjaan wiraswasta lainnya.” Oh iya, ada juga beberapa teman yang memilih jadi abdi negara. Pilihan terakhir, berumah tangga. Menurutku hal ini terjadi karena perjodohan atau memang sudah terencanakan.
Sebenarnya, ada yang paling terakhir dari semua pilihan tadi, yaitu Trying to think (Mencoba berfikir). Empat bulan ini akan berlalu cepat, dan akan dipenuhi banyak pertanyaan serta perenungan:
Disinilah keputusan terbaik menurutku, kuliah sambil bekerja. Kerja apa aja, ngerjain tugas, buka les, dan lain sebagainya yang bisa aku lakukan. Dari usaha-usaha itu setidaknya dapat hasil yang lumayan. Ya, meski hasilnya pun tak bisa terkumpul untuk biaya kuliah dan selalu habis untuk kebutuhan rumah.
Tapi aku tetap bersyukur, setidaknya letih yang orang tuaku rasakan terbayarkan. Sebab, bebannya telah berkurang, dan keringat yang bercucuran kini berganti dengan senyuman.
Kehidupan setelah SMA, membuka mataku bahwa hidup sejatinya adalah seni memilih. Memilih mana yang terbaik, namun tetap harus dipahami tidak ada pilihan yang benar-benar sempurna.
Mereka yang kuliah berkata, “Enak ya yang udah kerja, bisa jajan pakai uang sendiri.”
Sementara yang kerja juga berkata, “Enak ya yang masih kuliah, bisa santai-santai di rumah.”
Yang nggak kuliah ikut komen, “Kapan ya aku bisa kuliah?”
Sedangkan yang memilih lanjut ke pelaminan, beberapa ada yang merasakan penyesalan karena tidak melanjutkan kebangku perkuliahan. Terlebih kenyataan membangun rumah tangga di usia muda, tak semudah dan seindah dalam imajinasi yang sering dibayangkan.
Untuk kamu yang terpilih melanjutkan studi ke bangku kuliah, bersyukurlah. Sebab, tidak semua orang dapat seberuntung kamu. Jangan menyia-nyiakan kesempatan, tetap semangat walau jurusan atau kampus yang kamu dapatkan tak sesuai keinginan. Stop mengeluh atas tugas tugas yang menumpuk, sebab tugas-tugasmu itu tak sebanding dengan kerja keras orang tua yang membesarkanmu.
Untuk kamu yang sedang merasakan letihnya bekerja, berhentilah membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain. Sebab, manusia itu memandang dan dipandang. Ketika melihat orang lain, sering kita menilai mereka begitu bahagia. Sementara di sisi lain, mereka juga melihatmu sangat bahagia. Hal ini mengajarkan bahwa setiap insan sebenanrnya menyembunyikan kesedihannya masing-masing.
Pahamilah bahwa setiap orang ada masanya, dan setiap masa ada orangnya. Mungkin saat ini belum saatnya kamu mendapatkan impianmu, tapi jangan menyalahkan keadaan. Ambil hikmahnya, setidaknya kamu mengerti siapa saja yang setia di sampingmu bahkan ketika dirimu sedang terpuruk. Teruslah melangkah, berusaha sekeras yang kamu bisa untuk memperbaiki semua kekuranganmu, dan jangan dengarkan apa kata orang. Karena kamu yang menjalani hidup, sedih dan bahagia semua kamu yang rasakan. Maka, semua tergantung kamu, apakah larut dalam kesedihan atau bangkit dan mensyukuri segala hal yang dianugrahkan?
Berdoalah, semoga cepat bertemu dengan waktu. Waktu yang tepat akan impianmu tercapai, waktu yang indah atas segala kebahagiaan yang dinantikan, dan waktu yang sempurna saat kedua orang tuamu berkata, “Kami bangga padamu, Nak!”
–
Bionarasi ~
Aprilia Anggraini Putri lahir di Bangkalan Tanggal 16 April 2002. Jenjang pendidikan sekolah dasar MI Salafiyah, MTS Salafiyah, dan sekarang melanjutkan ke man 2 Probolinggo jurusan IPA.
Selain menjadi pelajar,ia mengabdi di TPQ Sukomulyo,yang dikenal dengan Rumah ABATA. Pada 2015, ia berhasil menjuarai Kompetisi Sains Madrasah (KSM).
Komentar Terbaru