Di sebuah kota penuh dengan gedung-gedung pencakar langit yang entah tingginya berapa, seorang anak bernama Zain serta mama dan papanya tinggal di sebuah rumah mewah. Zain adalah anak tunggal, kedua orang tuanya super sibuk dengan pekerjaan. Kini Zain duduk di kelas enam SD, dan termasuk kategori siswa berprestasi. Ia senang menghabiskan waktu dengan menyalurkan hobi menulis, terlebih ketika masa liburan.
Seperti biasa, pagi hari Zain bersiap berangkat ke sekolah. Karena kesibukan kedua orang tuanya, seluruh kebutuhan Zain diurus oleh ART, termasuk sarapan.
“Mama, pap-” ucap Zain dengan lirih dan tidak meneruskan perkataannya karena sudah mengerti sosok yang ia cari telah berangkat kerja.
Bi Ijah salah satu ART di rumah Zain, tak sengaja mendengar kalimat anak majikannya tersebut. Tanpa ditanya, bi Ijah langsung berkata, “Mama papa udah berangkat duluan, Den. Katanya ada kepentingan mendadak di kantor yang nggak bisa ditunda.”
Zain pun hanya mengangguk mendengar penjelasan bi Ijah, sebab ia pun sudah sangat sering mengalami kondisi seperti itu. Ia kemudian menghabiskan sarapan sendirian di meja makan, dan hanya ditemani kursi kosong tempat seharusnya kedua orang tuanya duduk. Selesai sarapan, ia lalu diantar ke sekolah oleh supir pribadi keluarganya.
Sepulang sekolah, Zain langsung masuk kamar dan berganti pakaian. Ia lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil merenung. Ia merasa hari ini terasa sangat kacau dan membosankan. Seluruh kebutuhan materi seperti uang mudah ia dapat dari kedua orang tuanya, apa yang ia inginkan pasti dikabulkan, tapi tetap saja ia merasa ada yang kurang.
“Kenapa ya, hidupku selalu seperti ini terus?” keluh Zain dalam hati.
Seketika ia teringat dengan kedua orang tuanya yang super sibuk dan tak kunjung pulang dari kantor, selalu tak punya waktu untuknya, serta membuatnya terus dilanda rasa sepi. Zain pun sadar dengan kondisinya selama ini yang dimanjakan dengan uang dan materi, namun itu semua tak cukup menggantikan kebahagiaan bersama mama papanya. Ia pun kemudian memutuskan menulis surat berisi curahan hati tentang kerinduan dan ia tujukan kepada kedua orang tuanya.
Hari Minggu, waktu yang paling tepat untuk Zain ngobrol dengan orang tuanya. Sebab, hari itu ia libur sekolah dan mama papanya libur kantor. Setelah sarapan, Zain menyerahkan surat yang telah ia buat.
Membaca surat yang ditulis putra semata wayangnya, kedua orang tua Zain merasa begitu sedih dan terharu. Hati mereka tersentuh dengan curahan hati anaknya, dan tersadar dengan kekeliruan mereka selama ini yang membiarkan anaknya merasa kesepian.
Padahal Zain tidak hanya butuh uang dan bermacam materi yang sibuk mereka kejar, tapi juga butuh perhatian serta kebersamaan menghabiskan waktu bersama. Sejak saat itu, mama papa Zain bertekad menjadi orang tua yang lebih baik, dan akan meluangkan waktu lebih bersama anaknya. Zain pun merasa bahagia dan kembali merasakan hangatnya pelukan keluarga yang utuh.
–
Bionarasi
Panca Putri Aisyah Nurul Jannah. Lahir 08 Agustus 2007 dan bercita-cita menjadi Kowad. Memiliki hobi berpetualangan, membaca, dan menggambar. Ia merupakan alumni MI Izzatul Muta’allimin, MTSN 2 Probolinggo, dan kini tercatat sebagai siswi di MAN 2 Probolinggo. Kabar tentangnya bisa diikuti lewat IG @czxq.__
Komentar Terbaru