Aku merindukan saat-saat kita masih bersama tanpa mengenal waktu. Saat pertama kali kau mengajakku berkenalan di sebuah danau, tempat yang menjadi saksi bisu persahabatan kita dimulai. Hadirmu, mengembalikan duniaku yang hilang dengan keceriaan yang kau berikan. Tanpa lelah, kau tetap mengajarkanku bermain di balik langit jingga sambil menikmati damainya air danau.
Aku akan tetap ingat apa yang pernah aku janjikan padamu ketika hujan turun. Saat itu, kau menangis tersedu-sedu karena takut kilat yang akan menyambar. Aku akan tetap menjadi pelangi setelah hujan untukmu. Sampai kapanpun, aku akan tetap teguh menjaga janjiku walaupun kini kau tak disampingku.
Jujur … kini aku sangat merindukan dirimu. Semuanya terasa hampa tanpa kehadiran dirimu. Sekarang, aku tak lagi dapat menghapus air matamu. Aku tak dapat melihat senyuman indahmu lagi. Mulai detik ini, semua sudah berakhir
Sampai saat ini, aku masih mencoba untuk merelakan apa yang telah terjadi. Aku berusaha untuk tegar disaat dunia telah mengambil segala yang kumiliki, termasuk dirimu. Terimakasih atas kehadiran dirimu dalam hidupku. Aku tak akan pernah merasa menyesal karena telah dipertemukan orang sepertimu. Semoga kau bahagia, aku merindukan dirimu sang pengagum senja.
_
Bionarasi
Halo teman-teman, nama aku Fariha Ramadani. Saat naskah ini diterbitkan, aku duduk di kelas 10F MAN 2 Probolinggo. Hobi menulis, membaca, dan menyanyi. Cita-cita ingin menjadi penulis dan Produser, amin. Aku berasal dari planet Bumi, negara Indonesia, pulau Jawa, tepatnya di desa Wangkal, kecamatan Gading, kabupaten Probolinggo. Kalian bisa banget sekali-kali main ke rumahku. Sekian.
Komentar Terbaru