Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Pepaya Daun Segar VS Pepaya Daun Bolong ~ Yunita Saifilla

Di sebuah kebun, hiduplah dua pepaya yang tak pernah akur. Si tinggi berdaun segar, selalu mengganggu si pendek berdaun bolong.
“Heh, kenapa sih kamu masih disini pohon jelek? Aku tuh muak banget lihat kamu,” bentak si daun segar.
“Aku tuh udah ditakdirin disini, nggak bisa kemana-mana lagi,” jawab si daun bolong dengan malas.
Dengan nada meremehkan si daun segar berkata, “Halah, alasanmu tuh nggak pernah berubah. Sama kayak daun kamu yang nggak pernah sehat.”

Sebenarnya, si daun bolong sangat benci dengan kesombongan temannya. Tapi ia sadar, temannya hanya ada si daun segar. Ia tak ingin membalasnya dengan kejahatan, apalagi dengan ucapan yang bisa menyakitkan hati.
“Ingin rasanya aku menjadi seperti manusia, bisa bebas bergerak kemana-mana,” keluh si daun segar dengan nada lemah.
“Mau bagaimana lagi, sudah takdir kita jadi pohon. Harusnya tuh kita banyak-banyak bersyukur saja,” balas si daun bolong berusaha menasehati.

Di suatu siang, si pemilik datang dan berniat menyiram tanah kebunnya yang mulai gersang. Saat siraman air mengarah ke si daun bolong, si daun segar berusaha memiringkan badan berharap air itu bisa ia nikmati.
“Eh, minggir! Aku mau minum,” bentak si daun segar yang terlihat kesulitan memiringkan badan.
“Itu kan punyaku, kenapa kamu ambil sih?” jawab si daun bolong dengan lemas.
“Idih, kamu tuh lebih baik mati kehausan. Aku tuh udah muak lihat tubuh jelek kamu tahu,” hina si daun segar tanpa merasa bersalah.

Hari demi hari, pohon berdaun bolong mulai layu karena kekurangan air. Tapi si daun segar yang serakah, sama sekali tidak peduli.
“Ah, panas banget ya, Long.” Si daun segar mencoba membuka percakapan, namun sama sekali tak direspon oleh si daun bolong yang terlihat semakin layu.
“Oi! kok kamu nggak jawab, sombong banget sih.” Kembali si daun segar berkata dengan nada marah.

Sementara dari kejauhan, terlihat si pemilik kebun datang sambil membawa alat pemotong.
“Ini kayaknya udah nggak sehat, lebih baik aku potong saja.” Perkataan si pemilik kebun saat berada di dekat pohon berdaun bolong.
“Akhirnya … kamu tuh bakalan pergi dari aku, bagus deh. Sana hus, hus, hus,” usir si pohon berdaun segar yang nampak bahagia.
“Iya, Gar. Nikmati hidupmu tanpaku sekarang.”Kalimat terakhir si pohon berdaun bolong sebelum ia ditebang dan dibawa pergi jauh oleh si pemilik kebun.

Bulan demi bulan berlalu, pohon berdaun segar masi tetap berada di kebun yang panas dan kesepian. Ia mulai menyesal dengan tindakannya kepada pohon berdaun bolong. Ingin rasanya meminta maaf, dan memintanya kembali menemani. Namun sudah terlambat.

Pesan dari dongeng ini:
Penyesalan selalu berada di akhir, alangkah baiknya sebelum bertindak kita berpikir terlebih dahulu, agar tak menyesal. Berbagi antara sesama merupakan sebuah kewajiban, jangan pernah terpecah belah hanya karena perbedaan.

Baca juga:  Mencari Rumah yang Sebenarnya ~ Putri Sri Utami


Bionarasi
Yunita Saifilla, lahir di tanjung 26 Maret 2008 dan menetap di tanjung. Menyelesaikan pendidikan sd di SDN tanjung pajarakan, lalu melanjutkan di SMPN 1 Pajarakan dan sekarang bersekolah di MAN 2 Probolinggo. Hobi membaca dan melukis. Bercita-cita menjadi guru. Instagram @onyours_afil

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR