Jumat, 04 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Sepenggal Nyawa ~ Salwa Nurul Asyifa

Takdir Allah itu nyata, dan manusia tidak bisa menebaknya. Setiap manusia pasti akan diberi cobaan. Cobaan sesuai dengan kemampuan. Untuk mengetahui rasa sakit, kita tidak perlu menyakiti diri. Untuk mengetahui luasnya samudera, kita tidak perlu pergi kesana. Karena, kita bisa belajar dan tahu dari pengalaman orang yang telah melakukan penelitian. Oleh karena itu, izinkan aku menceritakan sedikit pengalaman.

Dari bayi, aku memang jauh dari orang tua namun kasih sayang mereka tetap selalu ada. Lahir di kota yang terkenal dengan moci, namun tinggal dan besar di kota sini. Kakak perempuan dari ayah yang biasa aku sebut budhe, ya aku tinggal bersamanya. Ada satu cerita yang pernah beliau ucapkan bahwa dulu aku sering di bawa oleh saudara kerabat lain untuk tinggal bersamanya, mungkin saking lucunya aku ya hehe. Tetapi, hingga saat ini mereka tetap saja, menginginkan aku menginap dirumahnya.

Masa balita telah berlalu. Aku telah menduduki bangku sekolah dasar. Saat kelas tiga, entah mengapa pernapasan ini selalu bermasalah dan sakit saat beraktivitas. Ternyata, aku mengidap asma. Masa kecil yang tidak tahu apa apa, yang aku lakukan hanyalah menangis karena rasa sakit yang ada. Hingga saat ini, asma masih sering datang secara tiba tiba.

Asma adalah penyakit kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan sesak akibat peradangan dan penyempitan pada saluran napas. Asma dapat diderita oleh semua golongan usia, baik muda maupun tua. Penderita asma memiliki saluran pernapasan yang lebih sensitif dibandingkan orang normal. Ketika paru-paru terpapar pemicu asma, maka otot-otot di saluran pernapasan akan kaku sehingga membuat saluran tersebut menyempit.

Sampai waktu dimana aku sering kambuh. Saat ingin meninggalkan bangku sekolah dasar. Percaya tidak percaya, aku sering keluar masuk rumah sakit sampai sepuluh kali jumlahnya, selama satu bulan. Hanya sakit yang dapat dirasakan. Semua pengobatan telah dilakukan, lalu dokter mengatakan bahwa penyakit ini tidak bisa dihilangkan hanya dapat dicegah. Mendengar hal itu, seluruh keluarga khawatir akan kesehatan dan masa depanku.

Baca juga:  The Magic Of Meeting ~ Adinda Rizqiyatul Hasanah

Ramadhan 1443 H. Bulan suci yang dimana manusia berlomba lomba dalam hal kebaikan, puasa wajib yang harus dilaksanakan. Saat itu, aku sering kambuh hingga jarang melakukan. Hari raya idul Fitri sudah ada didepan mata, aku masih sempat merayakannya. Bersalaman dengan saudara dan tetangga, berakhir saat petang tiba.

Malam hari, tiba tiba asma datang menyerang. Segera budhe mendatangkan saudara yang berprofesi sebagai perawat rumah sakit. Beliau lalu mengobati dan asma pun mulai mereda. Namun, keesokannya pada saat sore hari asma kembali kambuh, dan budhe membawaku ke rumah sakit. Saking parahnya, dokter menyarankan untuk rawat inap. Jujur, seumur hidup baru kali ini aku merasakan rawat inap di sebuah rumah sakit terdekat. Ternyata gak enak ya.

Orang lain merayakan hari raya dengan rasa bahagia. Aku merayakannya, berbaring diatas ranjang dengan uluran selang. Cukup lama waktunya. Banyak keluarga yang menjenguk dengan buah tangan yang mereka bawa. Yang dirasakan hanyalah makanan hambar dan aroma obat dimana mana. Ingin rasanya keluar dari sini, ucapku saat itu.

Hari demi hari berlalu. Dokter telah memperbolehkan untuk pulang. Setelah kejadian tersebut, aku mulai menjaga kesehatan fisik dan pola makan. Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kalimat itulah yang selalu aku prioritaskan. Mungkin, saat ini masih sering kambuh namun tidak separah yang dulu. Hingga akhirnya, sudah menjadi hal yang biasa bagiku.

Intinya, kita tetap harus sabar disaat Allah memberi cobaan. Jangan lupa selalu disertai usaha dan doa. Allah pasti memberikanmu jalan yang terbaik akan setiap masalah. Seperti pada paragraf pertama bahwa Allah pasti memberi cobaan sesuai dengan kemampuan. Sesungguhnya Allah maha penyayang dan pengampun.

Bionarasi

Baca juga:  Rasa Penasaran ~ Adinda Rizqiyatul Hasanah

Assalamualaikum.

Salwa Nurul Asyifa lahir pada tahun 2007. Sekarang tengah menempuh pendidikan di MAN 2 Probolinggo. Menulis merupakan hobi baru baginya. “Beranilah untuk bermimpi dan beranikan dirimu untuk mewujudkan semua impianmu, karena impian tidak akan tercapai tanpa keberanian.”

Wassalamu’alaikum.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR