Niat adalah dorongan dalam hati seseorang untuk melakukan sesuatu. Semua hal yang kita lakukan tidak akan terlepas dari niat. Dan ia bisa berupa dorongan untuk melakukan kebaikan bisa juga keburukan.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Khaththab radhiyallahu, Nabi ﷺ bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بالنِّيَّاتِ وإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ ما نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَو امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya tiap amal tergantung dengan niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Maka, barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya; dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya kepada tujuannya tersebut.” [Muttafaqun ‘Alaihi: Shahih al-Bukhari (no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953), Shahih Muslim (no. 1907)].
Sebagaimana definisi dari niat serta hadits di atas, dapat kita ketahui bahwa niat adalah amalan hati.
Karena niat, suatu hal yang mubah bisa bernilai ibadah. Karena niat kegiatan yang biasa saja diganjar pahala.
Makan, minum, bahkan tidur. Dapat menjadi sumber pahala. Asalkan tujuannya untuk menambah kekuatan dalam beribadah.
Salah satunya adalah anjuran nabi untuk sahur bagi yang akan berpuasa. Nabi ﷺ bersabda,
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
Dari sahabat yang mulia Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata : Rasulullah bersabda, “Sahurlah kalian, karena sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah.”
[Muttafaqun ‘alaih, al-Bukhari (1923) dan Muslim (1095). Dari Anas bin Malik]
Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu berkata,
أَحْتَسِبُ نَوْمَتِي كَمَا أَحْتَسِبُ قَوْمَتِي.
“Aku berharap pahala dari tidurku; sama seperti aku berharap pahala dari ibadah malamku.” [Diriwayatkan al Bukhari, no. 4341. Dinukil pula dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm 59]
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
أَيْ أَنَّهُ يَطْلُبُ الثَّوَابَ فِيْ الرَّاحَةِ كَمَا يَطْلُبُهُ فِيْ التَّعَبِ؛ لِأَنَّ الرَّاحَةَ إِذَا قُصِدَ بِهَا الْإِعَانَةُ عَلَى الْعِبَادَةِ حَصَلَتْ الثَّوَابَ.
“Maksudnya dia mengharapkan pahala pada kesenangan sebagaimana mengharapkannya pada keletihan, karena kesenangan jika diniatkan untuk membantu ibadah maka akan menghasilkan pahala.” [Fathul Bari, jilid 8 hlm. 62]
Namun, karena niat pula, amal seseorang tak bernilai apa apa. Terhalang dari pahala. Bahkan mendapat dosa.
Nabi ﷺ memberi contoh dalam hadits di atas. Tentang 2 orang yang sama sama berhijrah. Amalannya sama. Namun, tujuan keduanya berbeda. Tentu saja hasil yang diraih tak sama.
Seseorang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya. Dia mendapatkan pahala sesuai apa yang ia niatkan. Sedang yang satu lagi hijrah karena tujuan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya. Ia tidak mendapat pahala.
Semoga Allah senantiasa mengkaruniai kita niat yang baik, serta menerima segenap amal ibadah kita. Amin
–
Bionarasi
Muhammad Bagas Rizky Pratama, biasa dipanggil Bagas. Siswa kelas X jurusan keagamaan, MAN 2 Probolinggo. Lahir di Probolinggo pada 16 Maret 2006, dan sekarang berusia 15 tahun. Bertempat tinggal di Desa Sukokerto, Kec. Pajarakan, Kab. Probolinggo.
Komentar Terbaru