Minggu, 11 Okt 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Yang Penting Hatinya ~ Lailatul Munawaroh

Azan magrib telah berkumandang, panggilan untuk menghadap Allah. Usai melaksanakan kewajibanku, aku duduk melamun. Bapak yang juga baru pulang dari masjid, ikut mengambil posisi duduk santai di sebelahku. Daripada melamun memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat, lebih baik aku mengobrol bersama Bapak.
“Pak, Ai mau tanya gimana sih kalo Bapak kerja di rumah Ko?,” tanyaku. Karena Bapak sudah lama kerja bersama Ko. Selama itu tidak pernah ada konflik ataupun masalah.
“Ya, kerja seperti biasa,” jawabnya singkat.
“Memangnya tidak pernah ada masalah Pak? Walaupun beda agama?”
“Kan niatnya kerja, kalo masalah agama itu urusan setiap manusia dengan Tuhannya.” Bapak menjawab seadanya.
“Ya, Ai tahu urusan agama itu urusan setiap manusia dengan Tuhannya. Tapi kan yang namanya perbedaan, masa ga pernah ada konflik? Ai pernah lihat di youtube bahkan sesama muslim saling membidah bidahkan,” tanyaku memaksa.
Aku begitu penasaran, bagaimana caranya ditengah perbedaan yang seperti saat ini mereka bisa bekerja sama dengan baik.
“Ga pernah, hal itu terjadi karena seseorang merasa dirinya paling benar dan saling menyalahkan. Sekarang Bapak mau bertanya, semua makhluk yang ada di dunia ini ciptaan siapa?”
“Ciptaan Allah” jawabku
“Kita semua ciptaan Allah, lantas untuk apa kita saling menyalahkan, Membenci, Bertengkar. Perumpamaanya seperti ini Ai, bagaimana jika kamu membuat suatu kerajinan tangan lalu ada orang yang mengatakan kalo hasil karyamu jelek. Kira-kira bagaimana perasaanmu?”
“Pasti marah Pak,” jawabku dengan nada geram dan marah.
Secara umum, tak ada seorang pun yang mau hasil karyanya dijelek-jelekkan. Setiap karya adalah yang terbaik dari yang menciptakan.
“Sama seperti itu Ai, kita itu semua ciptaan Allah. Saat kita membenci ciptaan Allah, secara tidak langsung kita membenci yang menciptakan. Kita ini makhluk sosial, tidak usah saling menyalahkan. Urusan agama itu urusan setiap individu dengan Tuhannya,” jelasnya panjang lebar.
“Tapi Pak, bagaimana jika ada orang yang mengkritik kita. Mengatakan apa yang kita lakukan adalah hal yang yah gitu dah?”
“Yang penting itu hati kita. Kalau sudah bersih maka ga akan ada lagi yang namanya iri, dendam, marah, egois, merasa dirinya paling benar.”
“Tapi, susah sekali di era sekarang mau seperti itu, Pak. Islam saja sekarang banyak alirannya,” paparku mengungkapkan kenyataan yang terjadi saat ini.
“Nggak susah kok, mulai saja dari diri sendiri. Jangan melihat orang lain terlebih dahulu. Semakin kamu mengoreksi banyak orang, semakin banyak juga salahmu,” nasihatnya.
Dari semua jawaban Bapak, memang benar kita seharusnya mulai introspeksi diri. Tidak usah terlalu banyak menilai orang lain. Sadar diri bahwa kita ini makhluk yang tidak bisa hidup tanpa orang lain di sekitar kita.
“Kamu pernah baca kisahnya wali songo?” tanya Bapak membuyarkan lamunanku.
“Pernah,” jawabku antusias.
Siapa yang tidak pernah membaca cerita wali songo. Setidaknya jika tidak pernah tahu persis ceritanya, semua orang khususnya masyarakat Jawa sudah tidak asing lagi dengan wali songo. Dengan berbagai macam metode dakwah, Para Wali berhasil mengislamkan tanah Jawa.
Salah satunya Sunan Bonang yang memanfaatkan wayang sebagai media penyebaran agama islam. Syair lagu gamelan yang digunakan setiap baitnya diselingi dengan syahadatain.
Selain Sunan Bonang, ada juga Raden Mas Syahid atau yang dikenal dengan Sunan Kalijaga. Berjiwa besar, berpandangan luas, berpikiran tajam, cerdas, dan kreatif, serta berasal dari suku Jawa asli.
Sunan Kalijaga mempunyai gaya dakwah yang mudah diterima sehingga Beliau dikenal dan dihormati oleh semua kalangan masyarakat. Orang yang paling berjasa menggunakan pendekatan kultural termasuk diantaranya wayang dan gamelan. Hobi masyarakat Jawa yang dimanfaatkan sebagai media penyebaran agama islam. Bahkan tembang-tembangnya masih viral hingga sekarang, seperti Kidung Wahyu Kolosebo dan Turi Putih.
Melalui seni Batik, Raden Mas Syahid juga menciptakan corak batik yang diberi motif burung. Burung dalam bahasa kwi disebut kukula. Kata tersebut ditulis dalam bahasa arab menjadi qu artinga jagalah dan qila artinya diucapkan. Bila digabungkan maka maksudnya adalah “peliharalah ucapanmu sebaik-baiknya” menjadi salah satu ajaran Sunan Kalijaga dalam corak batik.
Dakwah beliau berhasil berkat kelembutannya. Menarik perhatian masyarakat dengan kebudayaan yang ada. Menasihati masyarakat menggunakan tembang jawa. Seperti turi putih, lir-ilir, sluku-sluku batok, dan banyak lagi lainnya.
“Ai tahu pelajaran apa yang bisa diambil dari perjuangan wali songo?”
“Kita harus bisa memahami situasi dan kondisi,” jawabku dengan bangga.
Memahami situasi itu memang sangat penting. Seperti Wali songo yang bisa membaca situasi dan kondisi masyarakat, sehingga dengan mudah menyebarkan agama Islam dan diterima dengan baik.
“Betul Ai, Wali Songo begitu cerdas dalam memahami situasi. Mereka bisa mengislamkan tanah Jawa tanpa menghapus budaya yang ada. Paham kalo masyarakat Jawa terkenal dengan lemah lembut dan tata kramanya, mereka pun mendakwahkan Islam dengan tutur kata yang lembut.” Bapak menjelaskan sambil tersenyum. Walaupun harus dengan teka-teki terlebih dahulu, beliau selalu menjawab pertanyaan yang kuberikan dengan detail.
Hening, tidak ada lagi obrolan antara aku dan Bapak. Aku berlalu pergi ke kamar, merenungkan kembali obrolanku bersama bapak tentang pentingnya menghargai perbedaan. Sebab, aku juga pernah punya teman yang beda paham denganku.
Menggunakan hijab saudia warna maroon, saat itu aku membuat story Whats App. Berada di tengah majelis selawat dalam rangka memperingati maulid Rasulullah, aku tersenyum ke arah kamera. Foto itu lalu kuposting dengan caption “Sholawatan sek.”
Melihat postingan tersebut, salah satu temanku membalas dengan komentar “Maulid itu tidak ada. Sahabat tidak pernah melaksanakan maulid. Hadisnya tidak ada. Dapat dari mana dalilnya kalau memang maulid itu boleh?”
Komentar itu lalu kubalas “Memangnya kalau kita mau mengekspresikan cinta kepada seseorang harus pakai dalil. Ketika kita mau mengucapkan i love yiu, perlu kita terangkan dulu dalil yang mengaturnya?”
Setelah itu, pesan-pesannya tidak lagi kutanggapi. Menurutku percuma meladeni pesan yang seperti itu. Memikirkan hal yang tidak penting membuat kepala semakin pusing.
Sekarang banyak sekali orang yang terlalu ekstrim. Sedikit-sedikit mana dalilnya? Mana hadisnya? Tidak mungkin menikmati madu langsung dari bunganya. Akan ada lebah yang mengolah madu tersebut. Barulah kita bisa mengambil madu dari sarangnya.
Sebagaimana madu, dalam memahami ajaran Islam pun seperti itu. Kita masih membutuhkan bimbingan dari para ulama dan habaib untuk bisa memahami isi kandungan al Quran dan hadis.
Setiap manusia punya keyakinan masing-masing. Karena itu, berbeda dalam pendapat sudah biasa. Maka dari itu pentingnya moderasi dalam beragama. Ambil tengah-tengah saja.
Yang penting, hati kita tetap Allah dan perbanyak selawat untuk mendapat syafaat dari Rasulullah. Tidak terlalu ekstrim, dan juga tidak terlalu menganggap remeh. Intinya tidak usah terlalu miring ke kanan juga tidak terlalu miring ke kiri.
Terkadang sebagai masyarakat awam, kita lebih sering saling menyalahkan, merasa diri paling benar. Menggunakan telunjuk kita untuk menuding kesalahan orang lain, sementara tiga jari kita akan menunjuk diri kita sendiri.
Jari kita saja menunjukkan bahwa kitalah yang bersalah. Lantas untuk apa bertengkar hanya karena beda paham. Bukankah umat muslim itu ibarat satu bangunan, satu tubuh. Jika gigi yang sakit, kepala ikut merasa pusing, telinga juga tidak mau mendengar suara yang keras, dan mata ingin selalu terpejam.
Mari menyadari kesalahan diri sendiri, perkuat tali silaturrahmi, dan saling menghormati pendapat orang lain. Karena Indonesia terkenal dengan keberagamannya, layaknya bunga yang indah karena warna-warni coraknya.
Mulai saat ini aku bertekad untuk membenahi diri sendiri. Tidak usah terlalu pusing mikirin orang lain. Karena kunci pikiran yang tenang dan senang adalah tidak terlalu banyak mikir. Terakhir, aku mengambil bantal, selimut, dan guling. Bersiap untuk pergi ke alam mimpi.

Baca juga:  Segera dan Jangan Ditunda! ~ Muhammad Bagas Rizky Pratama

BIONARASI
Lailatul Munawaroh biasa di panggil ila.Sekarang bersekolah di MAN 2 PROBOLINGGO kelas 12
Alamat di dusun Kramat Jati,Desa Selogudig Kulon,Kecamatan Pajarakan,Kabupaten Probolinggo
Bisa menghubungi melalui email munawarohlailatul920@gmail.com

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR