Selasa, 08 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Impian Menjadi Seorang Santri ~ Aprilia Anggraini Putri

Namaku Abira yang artinya kuat. Aku putri sulung pasangan pak Wayan dan ibu Fathimah. Sekitar usia satu tahun, orang tuaku pergi merantau jauh. Karena itu, sejak kecil aku dirawat oleh keluarga Eyang dan Utiku. Tumbuh dan besar tanpa curahan kasih sayang langsung dari ayah dan ibu, bukan suatu yang mudah. Namun, ini perlahan mengajarkanku pelajaran berharga bahwa akan selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian, bahkan untuk sesuatu yang mungkin berat.
Hidup di lingkungan keluarga yang Sebagian besar nonmuslim, membuatku jauh dari Pendidikan tentang Islam. Bahkan sering kali aku diajak mengikuti ibadah dan tata cara berdoa menurut kepercayaan mereka. Aku yang saat itu belum mengerti banyak hal, terkadang juga ikut melakukan apa yang mereka contohkan.
Menginjak usia tujuh tahun, aku mulai bersekolah. Saat itu, aku mulai mengenal banyak teman. Berada di lingkungan yang berbeda dengan kondisi keluarga yang merawatku, mulai memunculkan perasaan berbeda dalam hati kecilku. Perlahan aku mulai menyadari bahwa ada yang membedakanku dengan teman-teman sebayaku yang hampir semuanya muslim.
Tak ingin terus larut dengan rasa penasaran dalam hati, mendorongku bertanya langsung kepada eyang kakung. “Eyang … Abira ini tinggal di bumi, ternyata Bumi itu luas ya. Sampai-sampai Abira bingung kayak ada yang beda dengan teman-teman di sekolah.”
“Iya, bumi itu luas, teman Abira itu punya keyakinan sendiri … Eyang mau ke pasar dulu,Abira mau ikut?” ajak eyang seraya meraih tangan kananku.
Tak puas dengan respon eyang, aku justru semakin bingung dan terus memendam pertanyaan-pertanyaan itu dalam hati.
Dua tahun berlalu, terjadi perubahan besar dalam hidupku. Eyang meninggal karena sakit, muncul konflik dalam keluarga, dan itu membuatku kehilangan kasih sayang dari orang-orang di sekitarku. Kejadian itu lalu membawaku hijrah bersama tante ke tempat lain. Sebuah tempat dengan suasana, lingkungan dan teman-teman baru yang selanjutnya mengantarkanku mengenal istilah “santri.”
Suatu waktu, aku bertemu dengan seorang kakek yang mengajar mengaji di sebuah mesjid dekat rumah, namun entah mengapa tante sepertinya tidak senang dengan pertemuanku tersebut. Sering kali aku diam-diam mendengarkan dari luar mesjid ketika si kakek mengajarkan tentang ke-Esaan Allah. Hal itu kembali memancing rasa penasaran dan pertanyaan yang pernah kuajukan kepada eyang di masa awal masuk sekolah.
Tak ingin larut terus dengan rasa penasaran, aku memberanikan diri menemui si kakek yang saat itu sedang duduk santai di teras mesjid. Aku bertanya kepada beliau tentang pelajaran yang sering ia ajarkan dan kudengarkan diam-diam dari luar mesjid. Ia lantas menjelaskan dengan begitu sabar tentang apa itu Islam kepadaku. Aku merasa begitu senang, karena cara si kakek menjelaskan seolah ia sedang bercerita kepada cucunya sendiri. Di akhir pertemuan kami, si kakek menyarankanku untuk bersekolah di madrasah.
Saran si kakek untuk pindah sekolah ke madrasah langsung kusampaikan kepada tante. Sesuai dugaanku, tante menolak dan melarangku untuk bertemu dengan si kakek lagi. Tapi, aku tetap bersikeras dengan keinginanku untuk pindah ke madrasah. Setelah terus berusaha meminta dan memohon, akhirnya tante mengabulkan permohonanku.
Aku yang saat itu sudah duduk di kelas tiga, memutuskan untuk kembali mengulang dari kelas satu. Hal itu kulakukan supaya bisa lebih maksimal dalam menerima ilmu di madrasah, khususnya pelajaran-pelajaran yang sama sekali tidak pernah kupelajari ketika di sekolah umum.
Banyak kesan menarik yang kualami selama menjalani rutinitas belajar di madrasah. Salah satunya ketika di kelas tiga semester dua, ada pelajaran aswaja, nahwu, sarrof, bahkan kitab Aqidatul Awwam mengajarkanku tentang pilihan jalan hidup yang harusnya kulalui. Berkah lain yang kuperoleh selama belajar di madrasah, ketika orang tuaku pulang setelah lama merantau di negeri orang. Tentu sangat membahagiakan ketika bertemu dengan sosok ayah dan ibu yang telah lama dirindukan.
Tak terasa sembilan tahun berlalu, aku telah menyelesaikan jenjang tsanawiyah. Berbagai kenangan dan kebiasaan seperti salat berjamaah, mengaji bersama, belajar kitab, hingga berkumpul dengan teman-teman di pondok, membuatku merasa masih betah menjadi santri.
Aku bangga dan bersyukur diberi kesempatan menjadi santri. Banyak pelajaran berharga yang kuperoleh khususnya untuk bekal hidup di masa depan. Salah satunya tentang adab dan akhlak, sebab orang yang tinggi akhlaknya,walaupun rendah ilmunya lebih mulia dari orang yang banyak ilmunya tapi kurang akhlaknya.

Bionarasi
Aprilia Anggraini Putri lahir di Bangkalan Tanggal 16 April 2002. Jenjang pendidikan sekolah dasar MI Salafiyah, MTS Salafiyah, dan sekarang melanjutkan ke man 2 Probolinggo jurusan IPA.
Selain menjadi pelajar,ia mengabdi di TPQ Sukomulyo,yang dikenal dengan Rumah ABATA. Pada 2015, ia berhasil menjuarai Kompetisi Sains Madrasah (KSM).

Baca juga:  Istirahatlah Pahlawanku (Lusiana Syafitri)

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR