Namaku Aisyah dan kekasihku Danil. Saat ini aku berada di dalam mobil yang berada di depan bangunan yang menjulang tinggi sebatas kaca mobilku. Akhirnya aku memutuskan keluar dari mobil sekedar mencari udara segar. Aku memilih duduk di bangku taman yang langsung berhadapan dengan bangunan gereja yang sudah di tutup.
Kalau ditanya kenapa aku tidak ikut beribadah ke dalam, jawabannya adalah aku seorang Muslim, dan aku kesini hanya menunggu kekasihku yang berada di dalam bangunan(gereja).
Ketika aku membaca Al-Quran dan dia membaca Al-Kitabnya.
Ketika aku mengucapkan syahadat dan dia mengucapkan syafaat.
Saat aku pergi ke masjid dan dia pergi ke gereja.
Aku yang menyebut nama Allah sedangkan dia menyebut Tuhan Yesus.
Bagaimana aku membuka telapak tangan untuk berdoa, sedangkan dia mengepalkan tangannya untuk berdoa.
“Shalom,” ucap Danil
“Waalaikumussalam,” balasku spontan.
“Mau makan dulu atau mau jalan-jalan dulu Syah?” Danil bertanya dengan lembut padaku, membuat hatiku terus-terusan untuk berfikir ulang atas apa yang telah aku susun.
“Mau di sini saja dulu. Pemandangannya indah dan udaranya yang sangat sejuk,” tuturku pada Danil.
“Oke, kenapa kamu mendadak minta ketemuan di sini, ada yang ingin kamu sampaikan, bilang saja?” ucap Danil.
“Kalau ada yang mau kamu bicarakan, sampaikan sekarang saja Aisyah. Enggak baik kalau kamu pendam sendiri,” sambung Danil.
“Dibilang sekarang nanti juga bakal kepikiran juga Nil … apakah kita akan tetap bersama Nil?” lirihku sambal tersenyum pahit.
“Iya Aisyah, kita akan tetap bersama apa pun itu penghalangnya,”
Aku terdiam mendengarnya. Aku pikir ini hanya khayalan kami yang bisa selalu bersama.
“Kenapa kamu belum bisa ngerti sih Nil,” batinku mendengar ucapan Danil.
“Kenapa?” tanya Danil.
“Banyak banget pertanyaan yang ada di pikiranku Nil,” balasku sambal mencoba menjauh darinya.
“Di manakah tempat yang akan menyatukan kita kelak? Dan di mana tempat yang akan menyakralkan kita kelak? Di mana?” ucapku mulai terisak.
Danil menatapku sejenak. Pria itu hanya diam mendengar keluhanku.
“Apakah di dalam masjid yang tentram atau di dalam gereja yang damai? Di atas mejaku atau di atas altar? Di depan penghulu atau di depan pendeta? Di mana tempat yang akan menyakralkan kita kelak? Di mana? Jawab di mana Nil?” Aku semakin tak bisa mengontrol emosiku.
“Kau percaya padaku kan Syah? Cinta adalah sebuah kasih sayang, kepercayaan, dan pengorbanan meski kita beda agama … Sudahlah, kok mellow gini, kayak anak kecil saja.” Danil berusaha menenangkanku sambil mengusap air mata di pipiku.
“Yuk kita pergi dari sini,” ajak Danil berusaha menggenggam tanganku.
Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan, Bulan berganti tahun. Muslim dan Nasrani. Tak ada yang tahu tentang akhir dari kisah ini. Biar waktu dan takdir memutuskan untuk berpihak pada cinta atau berpisah karna cinta.
Jika kata orang LDR paling jauh beda kota atau beda negara, itu tidak berlaku bagi kami. Bagi kami LDR paling jauh adalah menjalin kasih beda Agama.
Ketika aku ke Masjid dan kamu ke Gereja.
Ketika aku memegang kitab Al-Quran dan kamu memegang Saub
Ketika kamu bernyanyi dan aku beristigfar
Ketika kamu menghadap rosario dan aku menghadap Kiblat
Maaf! Aku tak punya kekuatan untuk menyatukan jarak antara aku, Tuhanku, kamu, dan Tuhanmu.
Apakah aku yang bukan hambanya boleh untuk mencintai umatnya?
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ
Janganlah kamu menikahi perempuan musyrik hingga mereka beriman! Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, meskipun dia menarik hatimu. Jangan pula kamu menikahkan laki-laki musyrik (dengan perempuan yang beriman) hingga mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. (QS. Al-Baqarah : 221)
Sudah tak bisa di bantah lagi pesan antara Aku dan Danil menunjukkan bahwa kami harus mengakhiri hubungan ini.
*****
Kini aku berada di sebuah kafe yang akan menjadi saksi kisah cinta kami yang sempat aku yakini akan bersama selamanya.
“Terima kasih Nil,.” kataku seraya mengaduk minumanku
“Untuk apa Syah?”
“Semuanya, selama ini hanya kamu yang ada saat aku butuh.”
“Sama-sama, Aku juga bilang terima kasih banyak Syah, karna kamu udah mencintai aku walaupun banyak rintangan. Dan kamu juga suda memberikan kisah cinta yang indah untuk dikenang,” ucap Danil
“Aku mencintaimu Nil … tapi a- aku lebih mencintai tuhanku,” lirihku dengan terbata-bata dan mulai terisak.
“Iya, aku juga enggak mungkin ambil kamu dari Tuhanmu tanpa restu. Udahlah Syah, tak perlu sedih.” Danil mencoba tegar, meskipun terlihat butiran kristal mulai ikut tergenang di pelupuk matanya.
“Makasih sekali lagi Nil, makasih.”
“Iya, sama-sama.” Danil terlihat menunduk sambil menghela nafas.
Kami saling diam membiarkan perasaan dan suasana mengambil alih semuanya.
“Aisyah, ini ambil,” sahut Danil sambil menjulurkan sebuah ketas kecil.
“Apa itu?”
“Surat, ambillah, buka setelah kamu sampai rumah.”
“Baik., kalau begitu aku permisi.” Aku berpamitan kepada Danil, dan kembali berusaha menguatkan diri akan keputusan yang kini telah kupilih.
Kami pun akhirnya berpisah di depan kafe, mengambil langkah kami masing-masing.
*****
Bionarasi
Perkenalkan nama saya Faizah Juan, biasa dipanggil Faiz. Saya sekarang bersekolah di MAN 2 Probolinggo kelas 11 mipa 2. Saya mempunyai hobi membaca. Alamat saya di Desa selogudig wetan, Dusun kerajan 2, jln condong, kec.pajarakan, kabupaten probolinggo. faizahjuan@gmail.com.
Komentar Terbaru