Selasa, 08 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Dalam Genggaman ~ Ria Andayani

Aku menghela nafas, 8 dari 10 total soal pretest fisika sudah mampu kujawab. Lima diantaranya sudah yakin benar jawabannya dan yang 3 lainnya fiks gagal kujawab. Kalau dua soal berikutnya tetap gagal aku gak ngerti harus gimana lagi.
9. Sebuah benda bergerak dengan momentum sebesar p. Tiba-tiba benda itu pecah menjadi 2 bagian yang masing-masing besar momentumnya P1 dan P2 dalam arah yang saling tegak lurus sehingga …
Oke Skip.
10. Sebuah bola bermassa 0,3 kg bergerak dengan kecepatan 2 m/s menumbuk sebuah bola lain yang bermassa 0,2 kg mula-mula diam. Jika setelah tumbukan pertama diam maka kecepatan bola kedua adalah…
Skip lagi.
Tenang Anin, tenang. Momentum dan tumbukan sering banget kamu dengar di kelas 10. Harusnya kamu ingat. HARUSNYA. Tapi kenyataannya, aku sama sekali tidak ingat.
Beginilah hasilnya. Gara-gara sekolah online selama satu tahun pandemi yang lebih sering diisi dengan rebahan, nonton drama, dan baca wattpad. Materi pelajaran kelas 10 buyar semua.
Terkadang aku kaget.
Perasaan baru kemarin aku sibuk haha-hihi bareng teman-teman baru dan sekarang sudah kelas 12. Kelas 11 hambar, gak ada rasanya.
Kutatap layar 14 inch di depanku, kembali membaca sisa soal yang belum aku jawab. Ku gerakkan touchpad dan memilih salah satu opsi jawaban secara acak kemudian mengklik tombol selesai dan tadaaa … Poin 60 berhasil aku dapatkan.
Huft, sudahlah. Lagipula ini hanya pretest. Nantinya aku bakal pelajari kembali materi yang sempat bubar barisan dari otakku ini.
Kriukk… Kriukkkk…
Tidak. Itu bukan suara kripik yang sering menjadi camilanku saat mengerjakan tugas daring. Suara itu murni dari perutku yang rata. Sepertinya cacing diperutku sudah demo untuk diisi mengingat ini sudah siang dan aku melewatkan sarapan pagi ku.
Aku sedang tak selera dengan lauk rumah. Dirumah hanya tersedia gulai kambing yang dihangatkan sisa akikah keponakanku, dan aku gak suka bau kambing. Keputusan untuk membeli makanan di Kedai Ndeso. Sepertinya seporsi baso aci dan sebungkus sempol teh Lilis cukup mengganjal perutku siang ini.
Kurapikan laptop, buku-buku dan alat tulis dan menatanya di meja belajar. Kuambil khimar instan dan tak lupa mengambil beberapa lembar uang dan handphone dan memasukkannya ke dalam saku celana kemudian berjalan keluar rumah.
Sebelum mengunci pintu, kuperhatikan kembali penampilanku. Satu set kaos putih polos dilapis cardigan lengan panjang tak lupa celana training hitam dan khimar bergo maryam. Oke tidak terlalu buruk. Lagipula tidak akan ada ibu-ibu tukang rumpi yang nongkrong di depan gang mengingat ini sudah waktunya tidur siang.
Kulangkahkan kakiku ringan menuju jalan setapak sambil bersenandung kecil menyanyikan salah satu playlist favoritku, Feby Putri-Usik. Benar dugaanku, kompleks rumah sedang sepi-sepinya. Aku jadi tak khawatir akan disapa ibu-ibu tetangga nantinya.
Sesampainya didepan gang, aku melihat Kedai Ndeso ramai akan anak-anak usia SD dan SMP yang duduk didepan gazebo-gazebo kecil. Disebut Kedai Ndeso karena hampir semua kalangan warga desa nongkrong di kedai ini. Sekadar menikmati es teh dua ribu gratis WiFi seharian.
Kuhampiri teh Lilis, salah satu penjaga kedai.
“Teh Lilis. Pesen baso aci seporsi dan sempolnya goceng yah teh. Bungkus,” pesanku pada perempuan dari Bandung ini.
“Iya dek. Duduk dulu, Teteh mau goreng sempolnya bentar yah.”
“Iya, Teh.”
Bola mataku spontan mencari tempat duduk yang sepi diantara segerombolan bocah ini dan menemukan Eca serta 3 temannya duduk di sudut gazebo paling kanan.
“Ca, Password Wifi Kedai Ndeso apa?” tanyaku pada Eca, anak buk RT yang sering belajar dirumahku.
“Sedang error,” jawab Eca tanpa melepas pandangan dari smarthphonenya.
“Masak error si? Emang kamu ngegame kalo gak connect ke WiFinya terus pake apa? ” balasku sambil mengeluarkan hape dari saku celana training.
“Iss, Mbak Anin nih gak ngerti. Emang Passwordnya sedang error kok. Gak pake spasi.”
“Heh? Gitu ya,” ucapku tertawa nyengir dan mulai mengetikkan passwordnya di hape.”
Eca diam,tak membalasku. Anak itu sibuk menggerakkan jarinya diatas smarthphone dan saling melontarkan beberapa kalimat yang menurutku sudah kasar untuk anak SD bersama teman-teman lainnya.
“Tuh kan kalah. Mbak Anin sii kebanyakan nanya. Eca jadi kalah kan,” rengeknya merengut sebal.
Yeu. Dia yang main, kok aku yang salah?
Dasar anak zaman sekarang. Mainnya sudah Smarthphone Berjam-jam duduk menatap hape memainkan gim online. Mereka pasti tidak tau gimana senengnya berlari dengan sandal yang dipakai ditangan hanya untuk merebut layangan putus atau serunya mandi disungai selepas pulang sekolah sampai emak datang membawa sapu andalannya lantaran anaknya yang tak kunjung pulang sekolah.
Handphone seolah tak bisa dilepaskan dari kehidupan anak-anak sekarang. Mereka kehilangan masa-masa kecilnya dan tergantikan dengan handphone yang menyita aktivitas di dunia luarnya. Dunia anak-anak yang kini telah tergantikan dalam genggaman mereka.
Terlaru larut dalam pikiranku hingga tak sadar seseorang menepuk bahuku pelan.
“Anin? Ini Anin kan?” ucap cowok jangkung berambut ikal yang berdiri didepanku.
“Ehh siapa ya?” tanyaku merasa asing dengan wajah dibalik masker itu.
“Aku Naka, yang satu sekolah sama Fatih itu. Yang dulu sempat mutualan di IG,” jelasnya sambil membuka maskernya dan menatapku yang kebingungan.
Aku mencoba mengingat teman virtualku yang bernama Naka yang juga salah satu teman Fatih, tetanggaku. Namun hasilnya nihil.
“At arsa underscore nakaya,” celetuk Naka menyebut username instagramnya.
Aku mencoba tersenyum ramah. “Ohh, begitu ya,” ucapku mengingatnya. Kenal virtual doang toh Lanjutku dalam hati.
“Sendirian, Nin?” tanyanya basa-basi dan duduk dihadapanku.
“Ya gitu deh.”
“Udah pesen belum? Mau pesen apa?”
“Udah kok. Pesen baso aci sama sempol tapi dibungkus. Kamu?”
“Aku pesen seblak. Bungkus juga.”
Ohh Aku menggigit bibir, bingung harus bicara apalagi.
“Rumah kamu dekat kedai sini?”
“Iya, coma masuk gang depan situ,” jawabku sambil menunjuk gang depan.
“Kok aku gak pernah liat kamu ya, padahal aku sering mampir kesini kalo dari rumah Fatih?”
“Ntahlah.”
Naka berdeham kaku. Sepertinya ia sudah bosan berbasa-basi denganku. Ia mengeluarkan hape dari saku jaket denimnya dan memainkannya dengan tenang. Aku pun juga pura-pura fokus pada hapeku.
Zaman sekarang, yang bisa menyelamatkan diri dari situasi awkward itu hanyalah smarthphone. Berlagak sok sibuk padahal tidak ada chat atau notifikasi apapun.
Aku dan Naka masih duduk berhadapan. Sibuk dengan dunia dalam genggaman kami masing-masing. Suara kendaraan dan ocehan anak-anak disamping mewarnai kecanggungan ini.
“Anin,” teriakan cempreng dari teh Lilis sukses menyelamatkanku dari situasi awkward ini.
“Iya teh,” sahutku tetap duduk di gazebo.
“Boci sama sempolnya dah siap. Saos kacangnya mau dipisah gak? ”
“Pisah aja teh.”
Kulihat Naka sekilas. Ia masih fokus pada hapenya. Tak terusik sedikitpun dengan obrolanku dan teh Lilis.
“Ka,” panggilku namun tak mendapat respon dari Naka.
“Naka,” panggilku sekali.
Naka yang tersadar kemudian mengerjap menatapku.
“Kenapa, Nin. Sorry, tadi fokus ke hape.”
Hmmm, begitulah manusia jika sudah berhadapan dengan handphone, ia akan lupa dengan dunia disekitarnya.
“Pesenanku dah siap. Aku duluan yah,” pamitku pada Naka.
“Iya, Nin. Sampai ketemu lagi yaa,” ucapnya sambil tersenyum ramah.
Aku mengangguk dan ikut tersenyum tipis. Ku hampiri teh Lilis di tempat pembayaran untuk mengambil pesananku.
“Lima belas ribu, Nin,” ucap teh lilis sambil menyerahkan satu plastik berisi boci dan sempolku.
Aku mengambil uang pas dari saku training dan membayarnya.
“Ini teh, Terimakasih teh”
“Sama-sama,” jawab teh Lilis sambil tersenyum hangat.
Aku pun berbalik, hendak keluar dari kedai ini. Kusempatkan melirik penghuni kedai ini. Naka, Eca dan yang lainnya masih sama, fokus menggulir jarinya diatas handphone. Seakan-akan dunia berada dalam genggamannya.
*****
Bionarasi
Ria Andayani, akrab disapa Ani. Mempunyai hobi membaca sejak kecil. Ia mulai suka menulis lantaran sifatnya yang pelupa sehingga ia sering terbiasa mencatat dan menulis di buku catatan atau notes handphonenya. Perempuan kelahiran 6 Juni ini kini tengah duduk di bangku kelas 12 Madrasah Aliyah Negeri 2 Probolinggo.
Temukan Ani di Instagram @an.riaaa.

Baca juga:  Begitu Sulit ~ Lesti Abelia

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR