Senin, 07 Sep 2026
  • " Being Smart Generation " Madrasah Mandiri Berprestasi, Madrasah Hebat Bermartabat

Tulis Apa Saja ~ Lailatul Munawaroh

Diketik, dihapus, diketik, dihapus itu yang sudah kulakukan berulang-ulang. Mulai pukul 18.00 WIB hingga 19.01 tidak ada tulisan di layar laptopku. Sedangkan tulisannya harus dikumpulkan pada jam 24.00 WIB. Tidak ada sinyal-sinyal arah tulisan.
“Nulis apa kok belum ada tulisannya?” tanya ibu kepadaku.
“Mau buat cerpen tapi ga tahu mau nulis apa,” jawbaku.
Kring … kring …
Ada panggilan masuk. Kugeser tombol hijau ke atas untuk menjawab telepon.
“Ai, ayo latihan hadrah!” ajaknya di seberang telepon.
“Aku sebenarnya sibuk sekarang,” jawabku. Karena memang malam ini aku berniat untuk mengerjakan tugas yang sudah menumpuk seperti cucian.
“Temen-temen udah pada kumpul,” ujarnya dengan nada sedikit kecewa dan langsung memutus ppanggilan.
Dengan terpaksa aku menutup laptopku. Menyimpannya di dalam lemari lalu berangkat.
***
Sesampainya di musholla
“ Loh kok sudah tidak ada, yang lain pada kemana?” tanyaku penasaran karena di musholla hanya tinggal 3 anak.
“Anak-anak udah pada pulang, ada yang mau main game, baca wattpad, nonton live you tube.” Mbak Utin menjawab semua pertanyaanku dengan jelas.
Kalau ditanya perasaanku saat itu bagaimana. Jelas, aku sangat marah. Deadline cerpen hanya tinggal menghitung jam dan mereka meneleponku. Setelah sampai mereka pulang.
“ Ini jadi atau tidak latihannya? Aku sudah usahakan datang kesini, yang lain malah pulang.” Aku bertanya dengan perasaan yang sudah tak menentu antara kecewa, marah, capek, pengen nangis, dan lainnya.
“ Sudah ga usah marah-marah mending cerita bareng sini. Kan sudah lama juga kita tidak bertukar cerita mengenang masa kecil,” kata Mbak Indi yang berusaha mendinginkan suasana.
“ Mbak, Ai sekarang banyak tugas di rumah. Ai barusan buat cerita tapi belum selesai dan masih belum tahu mau buat cerita yang bagaimana,” curhatku kepada 3 orang didepanku.
“ Maka dari itu ayo kita cerita-cerita dulu. Mungkin setelah ini kamu bisa mendapat hidayah,” hibur Mbak Tia.
“ Ya sudah ayo cerita dulu,” responku menyetujui ajakan Mbak Tia. Mungkin solusi ini akan membuatku menemukan arah ceritaku.
***
“ Eh, kamu belum baca grup yah?” selidik Mbak Utin kepadaku.
“Ada apa digrup?” tanyaku yang juga tak kalah penasaran.
“ Kamu ini ga bener emang,” tuduh Mbak Tia.
“ Kurang bener gimana aku?” tanyaku. Karena jujur saja aku belum membuka grup hadrah. Karena chat dari grup lain sangat banyak. Sehingga tidak sempat aku membaca pesan dari grup hadrah.
“ Ya, tadi panas sekali chat digrup itu serasa akan terjadi perang dunia ke 3,” sambung Mbak Indi.
“ Sebenarnya kalian ngomongin apa kok aku ga ngerti. Pesannya sudah dihapus,” ujarku karena aku benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka dan berita apa yang sudah aku lewatkan. Setiap pertemuan pasti akan ada perghibahan. Mustahil kalo sudah kumpul tapi ga ghibah.
“ Ayo dah cerita jangan ghibah. Aku lagi butuh inspirasi alur cerita,” pintaku kepada mereka.
“Sek aku haus, minta tolong belikan es Ai. Ini uangnya.” Mbak Indi memberikan uang 500 an kepadaku. Agar tidak lama langsung saja aku membeli es di toko terdekat. Aku membeli es sebanyak 5 plastik. Ada rasa susu strowbery, dan rasa cincau.
***
“Ini mbak,” ucapku sembari menyodorkan kresek putih yang berisi 5 plastik es dengan rasa yang berbeda.
“Ai kamu ingat nggak dulu pas kecil kamu selalu dikerjain sama kakak-kakak yang kelompok A?” tanya Mbak Utin.
“ Ingat lah Mbak, siapa coba yang ga ingat. Sandal disembunyikan, muka dikasih bekasnya pensil.” Aku masih ingat jelas waktu itu. Saat aku menjadi santri baru semua seakan tidak suka. Alasannya sepele hanya karena aku memanggil Bu Guru kepada Ustadzahku. Waktu itu aku masih belajar di taman kanak-kanak. Usiaku masih sekitar 3 tahun.
“Masih ada dendam nggak?” tanya Mbak Utin lagi.
“Nggak Mbak, tapi kalo inget pas itu rasanya kayak yang ga mungkin kita bisa seakrab sekarang Mbak. Dulu jangankan sampek ketawa bareng mau nyapa dengan tulusu rasanya sangat sulit,” Jawabku lagi. Sebab kalo rasa dendam itu pastisudah tidak ada. Sekarang saja kita sudah akrab banget. Aku hanya berharap semoga kita bisa menjaga silaturrahmi ini dengan baik dan menjalankan amanah yang kita emban semaksimal mungkin.
“ Woow … tanpa kita sadari hidup kita dulu seperti sinetron yah,” sambung Mbak Tia.
“Ya bener sekali emang persis sinetron,” tambah Mbak Indi
Aku akui memang hidup kita dulu seperti sinetron. Dimana semuanya pasti hanya berpura-pura baik didepan. Namanya juga masa kecil pasti ada kelakuan yang aneh-aneh. Dan hal itulah yang akan kita rindukan setelah kita dewasa.
“ Pas kamu ulang tahun, sebenarnya itu kita ga ada niatan buat kasih surprise ke kamu. Niatnya cuman ngerjain kamu biar kotor.” Mbak Utin mengungkapkan kebenaran itu tanpa ditutup-tutupi.
“Ya kah Mbak? Tapi aku merasa saat itu memang diberi keujtan di waktu aku ulang tahun. Malah aku merasa bahagia sekali waktu itu.” Memang walaupun aku kotor-kotoran aku senang sekali saat mereka memberi kejutan. Walaupun kejutan itu sebenarnya bermaksud lain. Terkadang disaat kita ingin melihat seseorang itu terjatuh. Sesungguhnya saat itulah kita terjatuh.
“Terimakasih untuk semuanya Mbak. Rasanya sangat lucu ketika kita waktu kecil. Masa-masa yang tak akan terlupakan. Berangkat ngaji jam 4 supaya bisa main drama dulu. Drama ikan mas, damar wulan, bawang putih dan bawang merah. Usai mengaji kita main jual-jualan (jual martabak, roti gulung, martabaknya pake sajada yang dilipat). Sekarang jangankan bermain seperti itu mau tidur siang aja kadang ga sempet gara-gara ngerjakan tugas,” curhatku sembari mengingat kenangan masa lalu.
“ Ya biasanya ketika ustadzah keluar kita akan bermain super deal, main tebak-tebakan dan main yang lain-lain.” Mbak Indi menyambung ceritaku.
“Aduuuhh … jadi pengen kembali ke masa kecil,” ungkap Mbak Tia sembari berpikir ke masa 12 tahun yang lalu.
“Yok kembali ke masa kecil!” ajak Mbak Utin keoada kami.
“ Ga mau, karena masa kecil memang indah untuk dikenang tapi tidak untuk diulang,” tolakku.
“ Ya bener emang indah untuk dikenang saja,” Mbak Indi menyetujui ucapanku.
“Gimana sudah menemukan alur ceritanya mau dibuat bagaimana?” tanya Mbak Tia.
“Ga tahu dah mau buat cerita gimana,”keluhku bingung. Aku sungguh bingung cerita yang bagaimana yang akan aku tulis dan deadline penulisan hanya sampai nanti malam.
“Kamu tulis saja cerita masa kecil kita, kan yang penting jadi cerita kan?” Mbak Utin memberikan solusi.
“Ya sih Mbak bener kan yang penting nanti ceritanya selesai ada konfliknya juga. Yang penting harus selesai malam ini,” tekadku bulat. Akan aku selesaikan ceritaku apapun jadinya yang penting harus terkumpul nanti malam.
*****
Bionarasi
Perkenalkan nama saya Lailatul Munawaroh bisa dipanggil Ila. Sekarang saya bersekolah di MAN 2 Probolinggo kelas 12. Alamat saya di Dusun Kramat Jati, Desa Selogudig Kulon, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Bisa dihubungi lewat e mail munawarohlailatul920@gmail.com.

Baca juga:  Ungkapan Tak Terbalas ~ Salwa Nurul Asyifa

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR