Indonesia adalah negara berbentuk republik, di bawah pemerintahan presiden dan wakil presiden beserta para menterinya. Menjadikan pancasila sebagai dasarnya dan keragaman digambarkan dengan semboyan “Bhineka tunggal Ika” berbeda-beda tetapi tetap satu jua, Indonesia dikenal dengan kegotongroyonganya. Namun, hal ini lambat laun tradisi itu mulai menurun, disebabkan masalah kepekaan.
PEKA. Suatu kata yang sering kita dengar dan kita hanya menginginkannya dari orang lain. Padahal tidak seperti itu, karena orang yang peka berarti orang yang mempunyai kepedulian terhadap orang lain. Kepekaan sendiri harus dimulai dari diri sendiri, karena perhatian terhadap sekitar kita akan memunculkan simpati orang lain. Eits, berbicara kata sekitar, bukan hanya untuk orang lain melainkan untuk lingkungan pula.
Ketika kita berbuat baik terhadap orang lain, insyaallah kita juga akan mendapat kebaikan pula. Apa yang kita tanam, itu yang akan dituai. Oleh karena itu, kita harus memulai dari diri kita sendiri.
Nah, untuk bisa diperhatikan lingkungan kita harus memperhatikan pula. Bagaimana caranya? Seperti membuang sampah pada tempatnya, menyingkirkan hal yang dapat membahayakan orang lain ketika ada di jalan, mencegah meluasnya penebangan pohon secara liar dan penangkapan ikan dengan alat listrik maupun bom, dan lain-lain. Mari mulai sekarang, kita nampakkan kepekaan dan perhatian terhadap apapun dan siapapun yang ada di sekitar kita.
Dibutuhkan dalam suatu komunitas atau masyarakat penyesuaian diri agar dapat diterima sebagai bagian dari komunitas tersebut. Hal ini kemudian akan berdampak munculnya pemahaman terhadap diri sendiri dan bahkan syarat agar dapat bekerja dengan orang lain secara efektif, sebab manusia adalah makhluk sosial, salingmembutuhkansatusamalain.
Salah satu cara untuk mengasah kepekaan, dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Dengan iman dan taqwa setiap manusia akan menyadari salah satu tugasnya di muka bumi sebagai khalifah. Berbekal iman dan taqwa, kita akan mawas diri terhadap segala hal yang kita lakukan, sebab semuanya akan mendapatkan balasan dari Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt. Dalam QS. Al Zalzalah : 7-8:
﴿لَهَا يَوۡمَئِذٖ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ ﴾
Terjemahnya :
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.
Penulis : Aprilia Anggraini Putri (Siswi XI IPA 1 UGL)
Komentar Terbaru